Breaking News:

UMKM Menghadang Badai Krisis, Digitalisasi Kunci Untuk Bertahan

Banyak faktor yang membuat UMKM tidak bisa bertahan di tengah gelombang krisis akibat pandemi. Salah satunya, masalah pada arus kas atau cash flow

SRIPOKU.COM / Syahrul Hidayat
Penenun dilengkapi masker menyelesaikan tenunan songket khas Palembang di Rumah Songket Fikri Collection Jl KI Rangga Wirasantika, Palembang, Rabu (12/8/2020). Untuk bertahan agar karyawan tetap bekerja, Fikri 

SRIPOKU.COM - Tidak dapat dipungkiri, bahwa sektor usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) tidak bisa luput dari badai krisis ekonomi dampak dari Pandemi Covid-19.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengonfirmasi sekitar 50 persen atau setara 30 juta dari 64,2 juta UMKM di Indonesia harus tutup sementara akibat pandemi.

Banyak faktor yang membuat UMKM tidak bisa bertahan di tengah gelombang krisis akibat pandemi. Salah satunya, masalah pada arus kas atau cash flow. Sebagian besar pelaku UMKM merasakan merosotnya pendapatan selama pandemi akibat turunnya jumlah pelanggan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berlangsung.

Ketidakpastian pasar ternyata juga memengaruhi permintaan barang yang dijual. Konsumen pun cenderung melakukan pengeluaran untuk kebutuhan esensial, seperti produk kesehatan.

Selain itu, konsumen banyak yang memilih untuk membeli segala keperluan secara online ketimbang langsung ke gerai. Mereka dengan mudah memilih melalui ponsel pintar, klik beli, bayar, dan barang segera dikirim ke rumah, tanpa khawatir terpapar virus.

Digitalisasi UMKM

Merujuk Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 9 dari 10 responden mengaku bahwa aktivitas belanja online mereka meningkat selama pandemi Covid-19. Selain dapat menghindari kerumunan, berbelanja online juga dapat meminimalisasi transaksi secara tunai.

Melihat hasil survei dan dari permasalahan pemasaran yang kini dihadapi UMKM, maka go digital atau digitalisasi menjadi langkah yang tepat bagi pelaku UMKM untuk menjangkau pasar lebih luas dengan aman.

Dalam memulai proses digitalisasi, pelaku UMKM bisa memilih platform e-commerce. Platform tersebut memberikan kemudahan, baik saat bergabung menjadi seller, memajang produk, maupun bertransaksi. Kelebihan lainnya, jumlah pengguna dan transaksidi platform e-commerce mengalami peningkatan tiap tahun.

Data McKinsey per Agustus 2020 menunjukkan, pengguna e-commerce mengalami kenaikan sebesar 26 persen. Sementara total transaksi mencapai 3,1 juta per hari. Penyedia platform e-commerce juga memberikan program menguntungkan bagi pelaku UMKM jika bergabung menjadi penjual. Platform e-commerce asal Indonesia, Blibli, misalnya.

Saat ini, Blibli tengah mendorong digitalisasi pada UMKM Indonesia melalui Blibli Seller. Untuk bergabung menjadi Blibli Seller, pelaku UMKM bisa mendaftar tanpa dikenai biaya deposit. Dengan begini, pelaku usaha bisa membuka toko secara gratis. Blibli Seller juga menerapkan kebijakan bebas komisi, khusus kategori tertentu.

Pacu Aktivitas Sektor UMKM dan Koperasi Sebagai Lokomotif Pemulihan Ekonomi Nasional

Tiga Bulan Tidak Dicairkan Penerima Program, Dana BLT UMKM Akan Ditarik Kembali

Kesempatan Mendapatkan BLT UMKM Masih Terbuka, Begini Cara dan Syarat Mendapatkannya

Artinya, pelaku usaha dapat menikmati keuntungan penjualan secara maksimal tanpa potongan komisi. Hal yang paling istimewa, pelaku UMKM bisa mendapatkan bonus modal promo senilai Rp 2 juta. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Blibli Seller, silakan kunjungi laman resmi Blibli di sini. Dengan adanya transformasi digital, pelaku UMKM diharapakan dapat segera melakukan akselerasi penjualan produk mereka sehingga dapat selamat dari jurang krisis akibat pandemi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Digitalisasi, Kunci Selamatkan UMKM Indonesia dari Krisis akibat Pandemi"

Editor: Azwir Ahmad
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved