Breaking News:

Beda Pandangan Dengan Anies Baswedan Soal PSBB, Presiden Jokowi Sampai Cara Yang Lebih Efektif

Penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta menimbulkan pro kontra di tegah masyarakat termasuk presiden.

Instagram @sekretariat.kabinet
Presiden Jokowi 

SRIPOKU.COM -- Penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta menimbulkan pro kontra di tegah masyarakat termasuk presiden.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, sebut Pembatasan Sosial Berskala Mikro/Komunitas (PSBMK) lebih efektif menekan penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Hal itu menjelaskan pernyataan Presiden Joko Widodo sebelumnya.

tribunnews
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri lebih bekerja keras dalam menangani Covid-19, dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Kamis (18/6/2020), ditayangkan Minggu (28/6/2020). (Capture YouTube Sekretariat Presiden)

Sosok Pejabat Diduga Jadikan Janda Cantik Obyek Seks Ternyata Sudah Mau Pensiun dan Jarang Ngantor

Sempat Mundur 2 Kali, Kemenaker Pastikan Waktu Pencairan BLT Subsidi Gaji Rp 600.000 Tahap III

Kronologi Siswi SMA Ini Mau Diperkosa di Jalanan Sepi, Ternyata Pelaku Pernah Perkosa Kakak Korban

Jokowi menyampaikan dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi sejumlah media massa bahwa penerapan PSBMK lebih efektif.

"Beliau menekankan, berdasarkan pengalaman empiris dan pendapat ahli sepanjang menangani pandemi Covid-19, PSBMK lebih efektif menerapkan disiplin protokol kesehatan," ujar Fadjroel kepada wartawan, Jumat (11/9).

Saat ini kenaikkan kasus positif Covid-19 di sejumlah daerah masih terus terjadi.

Salah satunya adalah DKI Jakarta yang sedang dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Kenaikan kasus harian di DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir berada di kisaran 1.000 kasus per hari.

Lonjakan tersebut membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik rem darurat dengan kembali menerapkan PSBB total.

Bila mengacu pada aturan PSBB sebelumnya, berarti seluruh kegiatan akan kembali berhenti dan hanya dikecualikan untuk 11 sektor esensial.

Langkah tersebut dinilai tepat oleh Anies untuk menjaga penyebaran Covid-19.

"Dalam rapat gugus tugas percepatan pengendalian Covid-19 di Jakarta, disimpulkan bahwa kita akan menarik rem darurat yang itu artinya kita terpaksa kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar seperti pada masa awal pandemi dulu," terang Anies beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, Jumat (11/9) terdapat 210.940 kasus positif.

Berdasarkan angka itu sebanyak 51.635 kasus positif berada di Jakara.

Sementara untuk penambahan kasus harian terdapat penambahan sebanyak 3.737 kasus di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut sebanyak 964 kasus berasal dari Jakarta.

Editor: adi kurniawan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved