Kurang Aktivitas Fisik Berisiko Memicu Depresi
Akibat pandemi membuat kita jarang berolahraga dan lebih sering menatap layar ponsel atau televisi di rumah.
SRIPOKU.COM - Perubahan aktivitas yang terjadi akibat pandemi membuat kita jarang berolahraga dan lebih sering menatap layar ponsel atau televisi di rumah.
Hal itu dapat berdampak pada kesehatan mental kita, menurut studi baru-baru ini yang diterbitkan di Cambridge Open Engage.
Studi tersebut mengumpulkan data tentang jumlah latihan, waktu menatap layar, dan kesehatan mental lebih dari 3.000 orang yang merupakan mahasiswa, staf, dan alumni Iowa State University mulai tanggal 3-7 April lalu.
• Inilah 6 Penyebab Badan Tiba-tiba Menggigil Kedinginan (1): Terpapar dingin hingga Aktivitas Fisik
• Ramalan Bintang Karier Senin 24 Agustus 2020: Leo Disarankan Untuk Tidak Menyerah pada Kesedihan
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Hasil studi menunjukkan, mereka yang sebelumnya memenuhi jumlah aktivitas fisik yang disarankan (150 menit aktivitas sedang, 75 menit aktivitas berat, atau gabungan keduanya) tidak lagi memenuhi persyaratan tersebut.
Para partisipan juga melaporkan, memiliki masalah pada kesehatan mental mereka, menurut penulis studi Jacob Meyer, Ph.D., asisten profesor dan direktur Wellbeing and Exercise Laboratory di Iowa State University, kepada Runner's World.
"Orang-orang yang dulunya mengikuti panduan aktivitas fisik sebelum Covid-19 dan mereka yang tidak lagi memenuhi panduan, memiliki gejala depresi lebih tinggi daripada mereka yang terus mengikuti panduan," kata Meyer.
Partisipan dalam studi ini yang mengisolasi diri melaporkan waktu menatap layar (screen time) dan waktu duduk mereka rata-rata meningkat 20-30 persen.
Tidak jelas apakah waktu di mana mereka seharusnya beraktivitas berubah menjadi kebiasaan menatap layar sepanjang hari, meski hal itu memungkinkan.
Dan jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:
Banyak orang tidak bersosialisasi dan tetap berada di rumah selama pandemi, sehingga ada kemungkinan mereka menatap layar lebih lama.
Mereka yang secara konsisten melaporkan waktu menatap layar kurang dari delapan jam sehari (baik sebelum dan sesudah pandemi) memiliki gejala depresi lebih rendah, dibandingkan 562 orang yang waktu menatap layarnya lebih dari delapan jam.
Meskipun studi ini belum ditinjau peneliti lain, hasilnya menunjukkan banyak orang mengurangi aktivitas fisik mereka dan menambah waktu duduk dan menatap layar selama awal pandemi Covid-19 di AS.
Perubahan ini dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, kata Meyer.
"Temuan awal ini menunjukkan upaya mempertahankan aktivitas fisik dan membatasi waktu menatap layar harus dilakukan, juga mengenali potensi efek kesehatan mental jangka pendek dan jangka panjang dari Covid-19," kata Meyer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/makan-sambil-nonton-tv_20180720_173150.jpg)