Sejarah Hari Bakti TNI AU yang Diperingati Setiap 29 Juli, Mengenang Sosok 3 Perintis Angkatan Udara

Hari ini 29 Juli diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU. Biasanya setiap Peringatan Hari Bakti TNI AU diadakan napak tilas sejarah hingga ziarah.

Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Linda
Peringatan Hari Bakti TNI AU di Lanud SMH, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sukarami, Rabu (29/7/2020). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Hari ini 29 Juli diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU.

Biasanya setiap Peringatan Hari Bakti TNI AU diadakan napak tilas sejarah hingga ziarah.

Namun karena kondisi saat ini masih pandemi Covid-19 maka dilaksanakan secara sederhana.

Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) di Palembang pun mengadakan upacara Peringatan Hari Bakti TNI AU di Lanud SMH, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sukarami.

Upacara Peringatan Hari Bakti TNI AU di Lanud SMH dipimpin langsung oleh Komandan Lanud SMH, Kolonel Pnb Firman Wirayuda S.T., M.Soc.Sc.

Sok Menghindar Depan Kamera, Nyatanya Atta Halilintar Doyan Gini ke Aurel Sampai Diprotes: Pantesan!

 

KAPOLRI Jenderal Idham Azis Dianugerahi Bintang Kartika Eka Paksi, Swa Bhuana Paksa dan Jalasena

"73 tahun lalu tepatnya 29 Juli 1947 Angkatan Udara Republik Indonesia secara gemilang telah menorehkan tinta emas heroisme perjuangan yang tercatat dalam sejarah Indonesia," kata Komandan Lanud SMH Kolonel Pnb Firman Wirayuda, Rabu (29/7/2020).

Lebih lanjut ia menceritakan kilas balik peristiwa heroik 73 tahun silam, ada tiga orang kesatria muda Angkatan Udara yaitu Kadet Udara I Suharnoko Harbani, Kadet Udara I Mulyono dan Kadet Udara I Sutardjo Sigit dengan gagah berani berhasil menyerang tangsi militer Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Serangan udara ini merupakan aksi balasan atas Agresi Militer Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 yang telah menyerang wilayah-wilayah Indonesia termasuk menyerang dan menghancurkan pangkalan-pangkalan udara di Jawa maupun Sumatera.

Namun saat Belanda menyerang Pangkalan Udara Maguwo, beberapa pesawat berhasil disembunyikan di bawah pohon pinggiran kampung sebelah selatan landasan.

Identitas Mayat Ditemukan di Selokan Bernama Faris Hermanto Warga Sukabangun Palembang

 

BREAKING NEWS : Heboh Penemuan Mayat Bersimbah Darah di Selokan Jalan Kolonel Burlian Palembang

Gelora perjuangan untuk melakukan aksi serangan balasan ke tangsi militer Belanda merupakan ide dan wujud kegigihan para Kadet dalam membela tanah air, yang kemudian disampaikan kepada Perwira Operasi Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma, dan diteruskan kepada Kasau Komodor Udara Soerjadi Suryadarma.

Berdasarkan persetujuan dan keputusan para pimpinan Angkatan Udara saat itu, maka disusunlah rencana operasi penyerangan secara matang.

Secara terintegrasi operasi penyerangan dimulai sekitar pukul 05.00 pagi menggunakan satu pesawat Guntei dan dua pesawat Cureng yang take off secara berurutan dari Lapangan Udara Maguwo.

Pesawat Guntei diawaki oleh Kadet Udara I Mulyono dengan air gunner Dulrahman yang terbang terlebih dahulu menuju Semarang, dengan membawa 400 kg bom.

Disusul pesawat Cureng diawaki oleh Kadet Udara I Sutardjo Sigit dengan air gunner Sutardjo dan Kadet Udara I Suharnoko Harbani dengan air gunner Kaput.

Dua pesawat Cureng masing-masing dilengkapi dengan bom seberat 50 kg yang digantungkan pada setiap sayapnya dan diback up oleh air gunner yang memangku peti-peti berisi bom-bom bakar.

Cara Membaca Surat Al Insyirah oleh Muzammil Hasballah dalam Bahasa Arab Ada Latin, Arti & Keutamaan

 

Hasil Studi Epidemiologi Sumsel, Kepercayaan Wong Palembang Terhadap Bahaya Covid-19 Memudar

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved