Petani Karet di OKI Rindukan Harga Jual Bisa Kembali Normal, Pemasukan Kami Cuma dari Getah Karet
Harga jual karet yang dikeluhkan masyarakat sangat mengalami penurunan drastis sejak kurun waktu sebulan terakhir.
SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG - Harga jual karet yang dikeluhkan masyarakat sangat mengalami penurunan drastis sejak kurun waktu sebulan terakhir.
Hal tersebut juga terasa hingga ke masyarakat di seluruh daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang sangat mengeluhkan merosotnya harga jual.
"Sangat jauh menurunnya harga jual karet mingguan disini, bahkan sangat parah dalam sebulan terakhir," ucap Yanto, salah satu petani di Kecamatan Mesuji Raya, Kamis (18/6/2020).
• Masyarakat Minta DLH Transparansi Mengeluarkan Hasil Pemeriksaan Laboratorium Terkait Limbah PT BAP
Dilanjutkannya, petani yang menggantungkan hidup dari hasil pohon karet tersebut menjelaskan hanya mampu mensyukuri keadaan.
"Ya gimana mas, kami tidak dapat mengandalkan apa-apa lagi, hanya memperoleh pemasukan dari penjualan getah karet.
Bayangkan saja sejak sebulan terakhir ini saja harga jual tidak lebih dari Rp. 6.000, padahal itu hitungan karet mingguan," ungkapnya sangat jauh berbeda dengan tahun lalu yang sempat menyentuh angka Rp.10.000.
Diharapkannya keadaan dapat kembali membaik dan harga jual dapat lebih meningkat seperti beberapa tahun yang lalu, agar ekonomi warga lebih meningkat.
"Kapan lah bisa mahal lagi seperti dulu, kami ingin pemerintah ikut mencarikan solusi bagi petani karet," ujarnya sembari berharap keadaan lebih membaik tahun depan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI, Aris Panani, SP melalui Kepala Bidang Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran, Tabroni, SP membenarkan harga karet yang turun drastis.
• Tambahan Enam Kasus Sembuh Dari Covid-19, Prabumulih Satu, OKU Timur 2, dan Banyuasin Tiga
"Iya banyak laporan yang kami terima dibeberapa wilayah di OKI dalam sebulan terakhir harga karet menurun, bahkan ada yang dibeli pengepul hanya berkisar Rp. 3.500 sampai 4.000 rupiah," ungkap Tabroni.
Namun dijelaskannya, untuk standar harga jual karet sesuai kadarnya yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dapat dikatakan stabil dan justru mengalami peningkatan.
"Kalau untuk harga karet justru naik senilai Rp 12.500/Kg karet kering kadar 100 persen ditingkat petani karet yang dikelola oleh Unit Pengolahan Pemasaran Bokar (Bahan Olahan Karet) atau UPPB dari sebelumnya harga dibawah Rp 12.000/Kg,"
"Sedangkan kadar 70 persen Rp. 8.800, kadar 60 persen Rp. 7.600 dan terendah yaitu 40 persen Rp. 5.030, sedangkan dikita kualitasnya berada di kadar 60 persen," jelasnya.
Masih kata Tabroni, dengan adanya Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) itu maka harga karet dapat terkontrol dan menjadikan harga karet stabil.
• Walikota Prabumulih Ancam Pindahkan Guru Ketahuan Melakukan Jual Beli Bangku Sekolah, Laporkan!
Sehingga kelompok tani karet tidak dirugikan, dimana biasanya sebelum ada UPPB kelompok tani karet menjual kepada tengkulak dengan harga rendah.