Berita Budaya Palembang

Hanya Bangsawan Palembang Boleh Belajar Pencak Silat Ini, dari Warisan Budaya Palembang Darussalam

Di Palembang ada namanya Pencak Silat Palembang atau juga disebut Pencak Priayi yang kini dikenal sebagai Pencak Keraton Palembang Asli (PKPA).

Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/Handout
Salah satu gerak pencak silat Palembang yang diperagakan dengan menggunakan pedang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Setiap daerah memiliki beragam seni beladiri tradisional, termasuk di Palembang. Nah di Palembang ada namanya Pencak Silat Palembang atau juga disebut Pencak Priayi yang kini dikenal sebagai Pencak Keraton Palembang Asli (PKPA).

Pengamat Sejarah Kota Palembang Kms. H. Andi Syarifuddin mengatakan, bahwa Pencak Priayi Palembang ini adalah warisan dari Keraton Kesultanan Palembang Darussalam. Yang harus terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang hingga kini masih terus dilestarikan.

"Di Palembang terdapat dua aliran besar pencak silat, yaitu Pencak Keraton dan Kuntau. Kalau Pencak Keraton hanya boleh dipelajari oleh bangsawan Palembang atau minimal asli orang Palembang, tapi kalau Kuntau untuk umum," kata Andi Syarifuddin saat dibincangi Tribun Sumsel melalui telepon, Minggu (14/6/2020).

Lebih lanjut ia menjelaskan, Pencak Keraton adalah pencak asli Keraton Kesultanan Palembang Darussalam secara turun temurun yang hanya khusus dapat dipelajari oleh kalangan bangsawan Palembang atau asli orang Palembang.

Sedangkan Kuntau boleh untuk umum, dipelajari oleh siapa saja, merupakan seni beladiri warisan masa lampau, yang dalam perkembangannya mendapat pula pengaruh dari asing, terutama dari Cina (Kuntau = ilmu pukulan).

"Pencak silat adalah sejumlah gerak gerik dan langkah budaya dengan gaya yang indah dan harmonis yang bertujuan sebagai pembelaan diri dan disertai dengan penyerangan pada lawan. Sifatnya adalah secara ksatria menjaga kehormatan diri, keadilan dan kebenaran," katanya.

Menurutnya, pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam, pencak silat asli keraton ini masih terus diajarkan dan dilestarikan. Sebagai guru besarnya ialah Pangeran Ratu Purbaya Abubakar bin Sultan Muhammad Mansur.

Selanjutnya di tahun 1929, dibentuklah organisasi "Priayi Fonds" sebagai wadah pelestarian pencak Palembang ini. Dimasa kemerdekaan berdiri pula "Persatuan Priayi Palembang" (PPP) pada tahun 1951, dimana salah satu visi misinya juga melestarikan pencak asli Palembang. Sebagai guru besarnya adalah Raden Abdul Hamid bin R.Adnan atau lebih dikenal dengan sebutan Cek Mid Ternate.

"Dalam perkembangannya, Pencak Priyai Palembang PP ini menjelma menjadi perguruan PKPA (Pencak Keraton Palembang Asli) yang ada di 27 Ilir. Kalau saya pun mengajarkan Pencak Keraton ini tapi kalau saya ngajarnya bersama adik-adik IRMA setiap Minggu sore. Namun karena adanya wabah Covid-19 distop dulu," bebernya.

Hingga 14 Juni 2020 Terapat 11 Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten PALI, Terjadi Peyebaran Lokal

Dua Pemuda Pencuri Buah Kopi di Buay Pemaca OKU Selatan Ditangkap Massa, Dua Pelaku Lagi Kabur

BKSDA Gunakan Gajah Pemikat untuk Mengevakuasi Gajah Liar yang Menewaskan Warga Nibung Muratara

Ia pun menceritakan bahwa Pencak Priayi Palembang ia dapatkan dari ayahnya Kms.H. Ibrahim Umary. Beliau belajar langsung dari R.Abd. Hamid Ternate di tahun 1958.

Berdasarkan cerita dari ayahnya, bahwa Pencak Priyai Palembang selain dipelajari sembilan jurus tangan kosong dan beberapa jenis senjata, juga terdapat jurus-jurus andalan, seperti Siamang Bejunte, Harimau Lapar, Harimau Ganas, Hiu Merusak Pukat dan lain-lain.

Selain jurus tangan kosong dan "betanggem", juga menggunakan senjata. Untuk senjata, masih mempergunakan jenis peralatan senjata asli tradisional perguruan silat pada masa silam seperti Keris, Pedang, Piso Duo, Besi Cabang, Tombak berambu, Cangka Unak, Tombak Cagak, Tembung Berantai, Tongkat, Kundur, Tameng, Kepalan Cengkeh, Tembung, Sampang Basah, Lading dan lain-lain.

Menurutnya, apabila mengadakan pertunjukan resmi, kostum yang dikenakan pada waktu itu adalah seperangkat pakaian khas adat Palembang, seperti tanjak dan sewet kencong. Jadi selain olahraga fisik, diajarkan pula aspek spiritual/rohaniyah. Yakni ilmu-ilmu agama, akhlaq-tasawuf dan tarekat (agar senantiasa tawadhu' dan rendah hati).

"Kalau zaman dulu Pencak Keraton itu barisan Keselutanan Palembang Darussalam. Jadi kalau zaman dulu Pencak Keraton ini juga digunakan untuk perang. Bahkan beberapa ulama jadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Kesultanan Palembang Darussalam dari ancaman musuh," cetusnya.

Adapun guru besar pencak silat di masa Kesultanan Palembang Darussalam, antara lain Pangeran Ratu Purbaya, Pangeran Mangkubumi Nembing Kapal, Puteri Ratu Emas Temenggung Bagus Kuning, Ki. Demang Kecek dan Syekh Abdus Somad al-Palembani.

"Syekh Abdus Somad ini selain ulama dia juga seorang pejuang, sebab ia juga merupakan cucu salah satu Sultan Palembang. Dia juga ahli bela diri. Bahkan ia bersama murid-muridnya turut berjuang melawan Belanda yang akhirnya dimenangkan oleh Palembang," ungkapnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved