Berita Palembang

Kekerasan Terhadap Anak di Sumsel Meningkat, Dipicu Orangtua yang Bertengkar karena Pandemi Covid-19

Kekerasan terhadap anak di Sumsel alami peningkatan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, Selasa (19/5/2020).

ISTIMEWA
Ilustrasi - Kekerasan Terhadap Anak di Sumsel Meningkat, Dipicu Orangtua yang Bertengkar karena Pandemi Covid-19 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odi Aria

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kekerasan terhadap anak di Sumsel alami peningkatan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, Selasa (19/5/2020).

Dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumatera Selatan (DP3A Sumsel) setidaknya terjadi tujuh kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Bumi Sriwijaya sejak dua bulan terakhir.

Pelaksana tugas Kepala DP3A Sumsel, Fitriana mengatakan kemunculan kekerasan pada anak disebabkan faktor ekonomi yang memang sedang mengalami keterpurukan di masa pandemi Covid-19.

Dari tujuh kasus kekerasan terhadap anak, empat diantaranya kekerasan seksual dan tiga kasus lainnya merupakan perebutan hak asuh anak.

"Kekerasan pada anak pada umumnya muncul karena faktor ekonomi. Empat kasus terjadi di Palembang dan tiga di Banyuasin," katanya.

Dari data DP3A Sumsel, sepanjang tahun 2020 ada 22 kasus yang dialami oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.

Orangtua yang sama-sama tidak memiliki pekerjaan akibat pandemi Covid-19 menjadi bertengkar dan berdampak pada kekerasan terhadap anak.

Selain itu, perebutan hak asuh anak juga terjadi di masa pandemi Covid-19 ini. Suami-istri yang terkena PHK dampak virus corona pada umumnya sering bertengkar hingga menyebabkan perceraian.

"Suami dan istri sama-sama di-PHK di masa pandemi, lalu kemudian mereka memilih berpisah dan terjadi perebutan hak asuh anak," jelas Fitriana.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumsel, Eko Wirawan mengatakan, pihaknya sebagai lembaga pemerintah selalu mengedukasi warga sebagai langkah pencegahan.

Warga juga diminta memahami kewajiban orangtua dan hak anak.

Kendati dalam masa keuangan tengah sulit imbas Covid-19, orangtia sebaiknya mengedepankan kepentingan keluarga dan jangan sampai anak menjadi tempat pelarian.

"Kita juga meningkatkan program konseling psikologi terhadap orangtua. Suami-istri harus memahami kewajiban orangtua dan hak anak," ungkap Eko.

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved