Liga Inggris
Ada 4 Pemain Man United yang Kebal Omelan Alex Ferguson,Termasuk Ronaldo dan Eric Cantona
Ryan Giggs sering merasakan omelan dan teriakan dari Alex Ferguson, tetapi ada beberapa momen yang membuat dirinya
SRIPOKU.COM - Legenda Manchester United, Ryan Giggs, mengatakan ada empat pemain, termasuk Cristiano Ronaldo, yang tidak pernah diomeli Sir Alex Ferguson.
Pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, memang dikenal sebagai sosok yang memiliki temperamen tinggi.
Para pemain Setan Merah yang tampil di bawah standar performa dipercaya bakal mendapatkan omelan dari pelatih tersukses Manchester United itu.
• Selain Alan-Susy, 5 Pasangan Pebulu Tangkis Dunia yang Jadi Suami-Istri, Ada Lindan dan Chong wei
• Pemain Lechia Gdansk Egy Maulana Sebut Piala Dunia U-20 2021 Jadi Kesempatan Emas Pemain Indonesia
• Impian Sir Alex Ferguson Sebelum Masa Pensiun, Menduetkan Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale
Hampir semua pemain yang tampil di bawah asuhan Sir Alex Ferguson dipercaya pernah mendapatkan omelan dan teriakan dari pelatih asal Skotlandia tersebut.
Namun, Ryan Giggs yang telah mengabdikan dirinya membela klub raksasa Liga Inggris itu selama 23 tahun mengatakan ada empat pemain spesial yang tidak pernah dimarahi Ferguson.

"Terdapat tiga atau empat pemain yang tidak pernah mendapatkan omelan Alex Ferguson," ujar Giggs dilansir BolaSport.com dari Mirror.
"Yang pertama adalah (Eric) Cantona, Bryan Robson, Roy Keane, dan terakhir Cristiano Ronaldo."
"Mereka semua dengan caranya masing-masing mampu memenangi pertandingan sehingga tidak pernah diomeli pelatih."
"Mereka melakukan hal yang menakjubkan di lapangan, jadi dia tidak pernah merasa harus memarahi keempat orang tersebut," ucap pria yang saat ini menjabat sebagai pelatih timnas Wales itu menambahkan.
Ryan Giggs sering merasakan omelan dan teriakan dari Alex Ferguson, tetapi ada beberapa momen yang membuat dirinya berdebat dan membela diri.

"Saya sering berselisih dengan Ferguson," kata Giggs dilansir dari sumber yang sama.
"Sebanyak enam atau tujuh kali saya berdebat dengannya karena saya memiliki argumen (yang kuat)."
"Pada saat itu kondisi saya tidak terlalu baik, Anda sedang berada di ruang ganti, dikalahkan (pemain lawan) atau bermain dengan buruk."
"Terkadang saya pun tidak bisa menahan diri untuk membela diri dan berdebat dengannya," tutur salah satu alumnus Class of 1992 itu melanjutkan.