Mengulik 'Durian Ayah' Di Awal Tahun

Seperti tahun-tahun yang lalu, di penghujung dan awal tahun masyarakat dapat melihat onggokan ‘gunung-gunung’ durian.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Dian Susilastri 

Oleh: Dian Susilastri 

Peneliti Ahli Muda Bidang Sastra di Balai Bahasa Sumsel

 MUSIM durian telah tiba. Seperti tahun-tahun yang lalu, di penghujung dan awal tahun masyarakat dapat melihat onggokan ‘gunung-gunung’ durian yang dijual di pinggir jalan.

Su­matra Selatan (Sumsel) dan daerah-daerah lain penghasil durian pasti dibanjiri buah durian.

Buah yang banyak digemari orang ini rasa dan aromanya memang istimewa.

Setiap memakan durian ada sensasi tersendiri yang berbeda ketika membuka butir durian yang lain.

Durian yang ini ra­sa­nya manis legit, dari buah yang lain rasanya manis pahit.

Warna durian yang ini kuning ke­hi­jau­an, yang satu lagi kuning tembaga.

Menikmati durian selalu membuat penasaran ingin mem­buka buah yang lain.

Saking istimewanya aroma durian, di sepanjang jalan penjual durian, orang-orang yang melaluinya akan mencium aroma durian yang menguar.

Menguarnya aroma durian ini merupakan hal yang khusus/khas yang hanya ada ketika sa­at­nya tiba.

Mungkin satu kali dalam satu tahun, seperti sebuah daur kehidupan, berulang dan a­da titik tertentu sebagai penumpu bagi daur selanjutnya.

Saya kemudian teringat dengan cer­pen Rizqi Turama yang terbit hampir dua tahun lalu, yaitu ‘Durian Ayah’.

Cerpen ‘Du­rian Ayah’ karya cerpenis dan novelis beberapa cerita action asal Palembang ini merupakan satu dari sekian cerpennya yang telah dimuat di Harian Kompas. 

‘Durian Ayah’ ini dimuat di Harian Kompas, 18 Maret 2018.

Sesuai dengan judul yang dipilih, tentunya isi cerpen tidak jauh-jauh dengan masalah durian.

Klausa menguarnya aroma durian menjadi diksi penutup Rizqi Turama dalam cerpennya. Kla­usa itu untuk mengungkapkan aroma bagi tanda sebuah titik awal dan sekaligus titik a­khir.

Buah du rian yang ditunggu ayah si aku selama puluhan tahun mulai menghasilkan buah de­ngan aroma menguar, tetapidi sisi lain menguarnya aroma durian merupakan tanda ber­akhirnya perjalanan hidup ayah di dunia, ayah meninggal tepat ketika pohon durian kesa­yang­annya justru mulai menghasilkan buah.

Dari seluruh tubuhnya, menguar aroma durian ma­tang.

Simile bagi daur hidup antara ma­nu­sia dan tumbuhan dijalin dengan apik oleh cer­penis muda berbakat yang juga dosen Unsri.

Riz­qi, pegiat sekaligus penjaga gawang Ko­munitas Kota Kata, sebuah komunitas literasi ya­ng rutin ber diskusi tentang sastra bersama mahasiswa sastra dan pecinta sastra di Pendopo ta­man depan TVRI Palembang, selalu mencari dan menemukan makna dalam ratusan karya sas­tra bersama komunitasnya.

Seperti di sekitar onggokan ‘gunung-gunung’ durian di sepanjang jalan yang beraroma is­timewa, aroma durian yang menguar pun dihadirkan secara spesial oleh Magister lulusan S-2 Sastra UGM ini.

Spesial bukan hanya aroma yang berasal dari durian hasil tanaman ayah, te­tapi juga aroma dari tubuh ayah yang baru meninggal.

Aroma tersebut merupakan puncak dari sebuah perjalanan dengan proses yang harus dijalani untuk sampai pada suatu tujuan.

Proses tersebut dapat diurai menjadi dua hal yang dioposisikan.

Kematian ayah merupakan proses daur hidup yang sampai pada titik akhir hidup, yaitu takdir kematian.

Di sisi lain, tum­buh dan mulai berbuahnya pohon durian yang ditanam dan dirawat ayah merupakan titik a­wal pohon durian yang mulai menghasilkan buah.

Ada kematian, ada kehidupan.

Seperti kata Teeuw (1991) bahwa dalam kode bahasa sastra terdapat prinsip ekuivalensi atau kesepadanan.

Dalam hal ini konsep tersebut dipakai untuk menggambarkan kesepadanan an­tara laku proses sang ayah dalam merawat pohon durian dan laku proses kehidupan se­seorang.

Dalam memandang proses tersebut sang ayah memiliki prinsip yang tidak instan: 

Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya per­ju­ang­an sendiri-sendiri menuju sana. 

Bagai memandang manusia yang menumbuh dan men­dewasa pada usia yang tepat, meskipun antarmanusia tidak selalu memiliki periode yang sa­ma.

 Begitulah ia memandang jalan hidup pohon-pohonnya.

Dipelihara dengan cara yang sa­ma baiknya, tetapi tidak selalu persis sama ketika memberi hasil dalam bentuk bunga dan buah.

Dalam cerpen itu Rizqi juga menyinggung masalah kepercayaan, baik menyerempet masalah religiositas maupun mitos dalam masyarakat.

 Hal tersebut masih dihubungkan dengan per­jalanan hidup pohon durian ayah.

Dalam kepercayaan Islam, seseorang dianggap suci setelah berhasil menjalani puasa Ramadan sebulan penuh.

Ini dipakai oleh ayah sebagai momen untuk menebang pohon duriannya yang tidak kunjung berbuah setelah dua puluh tiga tahun.

Kepercayaan yang dianalogikan ayah antara manusia dan tumbuhan kadang tidak masuk akal bagi si aku.

Ayah beranggapan waktu terbaik untuk menanam pohon adalah setelah lebaran. 

“Seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.”

Ayah juga menerapkan mitos yang biasa bagi manusia tetapi untuk pohon-pohonnya.

 Mitos yang tumbuh di masyarakat kadang-kadang berdampak baik karena mengandung kearifan lokal.

Namun, ada saja yang bertolak belakang, seperti mitos yang dipercaya ayah: “Pohon buah harus sedikit disakiti agar dia merasa terancam dan kemudian berbuah”.

Tindakan me­nyakiti bagaimana pun tetap saja menunjukkan intoleransi.

Karakter ayah tampak meloncat-lon­cat, paradoksal. Ia kadang menganggap pohon seperti manusia dan diperlakukan seperti manusia, tetapi di saat lain berani mengambil tindakan untuk menyakiti pohon kesa­yang­an­nya.

Seperti pesan Rita Rubby Hartland bagi pendaki gunung dalam bait lagunya: “ ... mem­prok­lamirkan dirimu pecinta alam ... banyak pepohonan merintih kepedihan/dikuliti pisaumu yang tak pernah diam ...”

Maknanya, pohon pun bisa merintih kesakitan jika tubuhnya di­kuliti.

Perlakuan ayah terhadap pohon tidak saja dalam hal tindakan. 

Ayah memperlakukan pohon-pohon seperti anak sendiri, sehingga antara anak kandung ayah dan pohon buah-buahan ta­naman ayah dianggap sebagai saudara.

Tolok ukurnya adalah usia. Si aku lahir lebih dulu dari pohon durian, maka pohon itu dianggap sebagai adik si aku.

Demikian perlakuannya terhadap pohon lain, ada yang dianggap kakak karena ditanam lebih dulu ketimbang si aku yang lahir ke­mudian.

Ini menunjukkan dua hal, pertama kedekatan manusia dengan makluk hidup lain seperti tanaman adalah sebuah ekokritik yang menunjukkan kemesraan hubungan antara manusia dan alam.

Kedua, pandangan bahwa makhluk hidup itu tumbuh melalui proses, tidak instan, dan hasil dari proses pun tidak semua sama.

Penghargaan atas individu merupakan ben­tuk penghormatan atas hak asasi individu. Seperti kata ayah: “Sabarlah.

Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama. Mereka punya perjuangan sendiri-sendiri menuju sana.”

Mengulik isi cerpen Rizqi Turama ‘Durian Ayah’ diperlukan untuk sebuah perenungan di awal tahun.

Banyak pesan yang disampaikan yang kadang rapi tersimpan secara implisit, tetapi kadang sedikit eksplisit meskipun tidak vulgar. 

Manusia hanya perlu berusaha, Tuhan yang akan menentukan akhir usaha tersebut.

Bahkan, ketika ujian kesabaran nyaris menyurutkan langkah, orang harus tetap percaya kepada kebesaran Tuhan yang Maha Membolak-balikkan nasib.

Namun usaha tidak mengkhianati hasil.

Meskipun cita-cita dan upaya yang terpenuhi tidak harus dinikmati oleh diri sendiri, tetapi persembahan bagi generasi selanjutnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved