Virus Corona di Sumsel

Tips agar tidak Cemas Berlebihan karena Takut Terjangkit Virus Corona atau Covid-19

Kecemasan akan terjangkit virus corona atau corona virus disease 2019 (covid-19) yang saat ini melanda Indonesia, dirasakan oleh masyarakat, wajar.

Penulis: maya citra rosa | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ANTONI AGUSTINO
Ilustrasi cemas 
Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kecemasan akan terjangkit virus corona atau corona virus disease 2019 (covid-19) yang saat ini melanda Indonesia, dirasakan oleh masyarakat merupakan hal yang wajar. 
 
Namun apabila kecemasan akan terjangkit virus corona atau corona virus disease 2019 (covid-19) tersebut menjadi berlebih, dapat menimbulkan permasalahan psikologis bagi masyarakat. 
 
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Sumsel, Muhammady Uyun mengatakan kecemasan adalah salah satu tanda orang yang sehat. 
Tetapi, jika kecemasan itu menjadi berlebihan hal ini yang perlu dilakukan pemeriksaan karena mekanisme orang yang merasa cemas sifatnya sangat personal. 
 
"Hal ini karena berbeda antara individu yang satu dengan yang lain, walaupun objeknya sama," ujarnya saat dihubungi via whatsapp, Minggu (05/04/2020).
 
Berikut ini tips agar masyarakat tidak merasa cemas berlebih takut akan terjangkit Virus Corona. 
 
Hal pertama yang harus diterapkan oleh masyarakat agar tidak merasa cemas yang berlebih, yaitu berpikir positif. 
 
Masyarakat harus memiliki rasa saling mendukung, berbagi pesan dan energi positif agar optimisme bahwa wabah Virus Corona ini dapat segera berakhir. 
 
"Kita hilangkan informasi negatif seperti hoax, berikan terus kata-kata semangat,dan sebarkan pesan positif, agar psikologis tidak terbebani dan akhirnya timbul kecemasan berlebih," ujarnya. 
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Sumsel, Muhammady Uyun
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Sumsel, Muhammady Uyun (Dok Pribadi)
Kedua, menerapkan pola hidup sehat, dimana bagi masyarakat umum dan ODP untuk menjalankan isolasi diri dengan kesadaran tanpa paksaan, serta tetap menjaga kesehatan dirinya sendiri. 
 
Hal ini seperti yang sudah diimbau oleh pemerintah untuk memakai masker, menjaga jarak aman minimal satu meter, sering cuci tangan, berjemur diri pada saat pagi minimal 15 menit, dan makan makanan yang sehat. 
Ketiga, post-traumatic stress symptoms yang dirasakan oleh masyarakat biasanya berupa ketakutan, stres, curiga berlebihan terhadap orang asing atau yang tidak dikenal. 
 
"Juga termasuk kecemasan, kebingungan dan kemarahan," ujarnya. 
 
Dampak yang ditimbulkan dalam kondisi isolasi mandiri ataupun karantina di rumah sakit bagi ODP dan PDP, seperti ketakutan atas infeksi, frustasi, bosan, persediaan kebutuhan yang tidak cukup, dan informasi tidak cukup.
 
Selain itu juga kerugian finansial dan stigma negatif dari masyarakat dapat mengganggu kesehatan psikologis masyarakat luas. 
 
Oleh karena itu, Uyun menyarankan masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar rumah, namun tetap produktif dengan bekerja, belajar dan beribadah di rumah sesuai arahan pemerintah.
Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved