Ada Kebijakan UN Dihapus, Mahasiswa di Palembang tak Antusias dengan Petisi Penghapusan Skripsi

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 yang tengah melanda dunia beberapa bulan ini memang mengubah kegiatan aktivitas manusia.

limassripo
Ilustrasi mahasiswa pusing mengerjakan skripsi. 

Laporan wartawan Limassripo

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pandemi Virus Corona atau Covid-19 yang tengah melanda dunia beberapa bulan ini memang mengubah kegiatan aktivitas manusia.

Berbagai kegiatan yang mengumpulkan banyak orang saat ini pun sudah dihentikan seiring meningkatnya jumlah penderita Covid-19.

Tentunya hal ini juga berdampak pada bidang pendidikan, seperti dibatalkannya Ujian Nasional (UN) yang dijadwalkan pada tanggal 16-19 Maret 2020 karena alasan keamanan dan kesehatan.

Petisi penghapusan skripsi.
Petisi penghapusan skripsi. (handout)

Putuskan Mata Rantai Penyebaran Covid-19, Pengurus FPTI PALI Datangi Rumah Warga Semprot Disinfektan

Melihat kondisi demikian, muncul berbagai reaksi dari para mahasiswa untuk mengajukan penghapusan skripsi.

Penghapusan skripsi yang diajukan melalui petisi online melalui situs Change.org ini pun sudah ditandatangani oleh 22.730 ribu orang per Selasa (31/03/2020).

Penandatanganan petisi online ini didasarkan pada beberapa hal, seperti kesulitan untuk melakukan bimbingan, mahalnya UKT, hingga terkendalanya pengumpulan data untuk tugas akhir.

Hal ini memunculkan berbagai reaksi dari para mahasiswa di Palembang.

Berliana Syafitri, salah satu mahasiswi Semester 8 Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya, mengatakan kurang setuju dengan petisi ini karena baginya skripsi adalah bukti penerapan ilmu semasa kuliah.

“Tentunya ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti memaksimalkan e-book atau jurnal online ataupun jika memang terkendala dapat mengerjakan bagian skripsi yang mudah terlebih dahulu,” kata Berliana.

Detik-detik Seorang Perempuan Positif Covid-19 di Jakarta Kabur dari Tempat Isolasi

Pendapat lainnya muncul dari Nyayu Nadia A, seorang mahasiswi Poltekkes Kemenkes Palembang Jurusan Gizi Semester 6.

Menurutnya solusi terbaik adalah dengan pengunduran masa pembuatan skripsi karena skripsi adalah bentuk pendewasaan diri.

"Sebaiknya ditunda aja sesuai dengan jatah waktu pembuatan skripsi, karena sangat terhalang terlebih untuk mahasiswa yang harus terjun ke lapangan untuk mencari data," kata Nadia.

Editor: Refly Permana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved