Mensikapi Wabah COVID 19

“Islam Dalam Mensikapi Wabah COVID-19”

Tiga bulan terakhir, masyarakat dunia digemparkan oleh wabah paling menakutkan Covid-19.

“Islam Dalam Mensikapi Wabah COVID-19”
ist
H. John Supriyanto

Islam Dalam Mensikapi Wabah COVID-19”
Oleh : H. John Supriyanto

Penulis adalah dosen Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang
Tiga bulan terakhir, masyarakat dunia digemparkan oleh wabah paling menakutkan Covid-19.
Sejak pertama kali terdeteksi di negeri asalnya, kota Wuhan, China akhir 2019, virus ini menyebar sangat cepat dan telah menginveksi lebih dari 152 negara, termasuk Indonesia.
Dilaporkan lebih dari 181 ribu orang positif Covid-19 dengan korban meninggal hampir mencapai angka 8000 orang.
Meski terdata 79.000 orang di antaranya dikatakan sembuh, namun sampai sejauh ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk mengantisipasi makhluk nano yang sangat mengerikan ini.
Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, mulai dari larangan berpergian ke luar negeri, karantina dan perlakuan eksklusif terhadap mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terinveksi, hingga membatasi berbagai aktifitas massal dan menghindari keramaian (social distancing), bahkan sampai pada pemberhentian aktifitas secara total.
Lalu, bagaimana idealnya umat beriman bersikap dan menghadapi fenomena Covid-19 ini?
Kisah para shahabat berikut ini mungkin bisa menginspirasi.
Dalam literatur riwayat disebutkan, suatu ketika ‘Umar ibn al-Khaththab ra. –sang Khalifah- bersama rombongan berangkat dari Madinah menuju Syam untuk sebuah urusan.
Menjelang sampai di perbatasan Syam, rombongan berhenti sembari beristirahat.
Lebih penting dari sekedar beristirahat, mereka juga mendengar berita bahwa penduduk Syam tengah dilanda wabah virus “tha’un amwas”.
Konon, pandemi tha’un ini begitu agresif dan menyebar sangat cepat.
Bila terinveksi pada siang hari, maka seseorang akan meninggal pada malamnya.
Demikian sebaliknya. Gejalanya juga sangat mengerikan.
Muncul benjolan-benjolan di sekujur tubuh, lalu pecah dan menyebabkan pendarahan hebat. Tidak ada yang mampu bertahan terhadap serangan wabah ini.
Mendengar ada rombongan khalifah yang akan berkunjung, Gubernur Syam, Abu ‘Ubaidah ibn Jarrah ra. datang ke perbatasan.
Beliau juga ingin meyakinkan khalifah dan rombongan bahwa situasi Syam aman, meski dalam suasana sedikit mencekam karena serangan penyakit menular.
Maksudnya, Abu ‘Ubaidah berharap agar Khalifah ‘Umar dan rombongan bersedia meneruskan perjalanan mereka menuju Syam.
Mensikapi saran dan keinginan Abu ‘Ubaidah, Khalifah ‘Umar rapat singkat bersama para sahabat.
Rapat ini kemudian memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan menuju Syam dan segera pulang ke Madinah.
Terhadap keputusan ini Abu ‘Ubaidah mengatakan : “Mengapa anda semua lari dari takdir Allah Swt.?”.
Lalu ‘Umar menjelaskan dengan pertanyaan : “Jika ada dua lahan subur dan kering, ke lahan mana engkan akan gembalakan kambingmu”?.
“Bukankah kedua lahan subur dan kering itu adalah sama-sama takdir Allah”?.
“Dengan pulang ke Madinah, artinya kami berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya”.
Dialog ini kemudian terhenti ketika ‘Abdurrahman ibn ‘Auf mengucapkan sabda Rasulullah Saw. : “Jika kamu mendengar suatu wabah melanda suatu daerah, maka jangan kamu memasukinya. Dan bila kamu berada di daerah itu, maka janganlah kamu keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari-Muslim).
Setelah tiba di Madinah, Khalifah ‘Umar menulis surat ke Syam mengajak Abu ‘Ubaidah meninggalkan negerinya dan tinggal di Madinah.
Ajakan ini kemudian ditolak oleh Abu ‘Ubaidah dengan mengatakan : “biarkan aku hidup bersama rakyatku dan mati-pun bersama rakyatku”.
Tidak lama berselang terdengar berita bahwa Abu ‘Ubaidah dan para sahabat mulia seperti Mu’adz ibn Jabal, Suhail ibn Amr dan lain-lain wafat terkena ini.
Mereka wafat sebelum sempat ditemukan obat penawar dan mendapatkan perawatan.
Tercatat tidak kurang dari 20 ribu orang terinveksi dan meninggal akibat wabah tha’un. Konon angka tersebut hampir separuh dari seluruh populasi Syam saat itu.
Kemudian, Khalifah ‘Umar mengangkat Amr ibn ‘Ash ra. untuk menggantikan Abu ‘Ubaidah ra. sebagai gubernur Syam. Beliau adalah seorang shahabat senior yang sangat cerdas.
Ia mengatakan : “Wahai rakyatku, ketahuilah bahwa wabah ini menyebar tak ubahnya seperti kobaran api. Maka, jagalah jarak-mu dan putuskan mata rantai dengan lari ke gunung-gunung”.
Instruksi pemerintah Syam ini kemudian dipatuhi dan diikuti oleh rakyatnya.
Mereka mengkarantina diri dengan pergi ke tempat-tempat terpencil, seperti gunung, gua, gurun, padang pasir dan lain sebagainya.
Hingga kemudian wabah tha’un berhenti dengan sendirinya.
Tak ubahnya seperti api yang padam karena tidak ada lagi menemukan media yang bisa dilalapnya.
Ada beberapa poin penting dari kisah di atas dalam menghadapi covid-19 yang mewabah saat ini.
Pertama, umat beriman harus menyempurnakan ikhtiar dengan melakukan semua anjuran pemerintah.
Mulai dari meningkatkan penerapan pola hidup sehat, menghindari tempat-tempat keramaian, membatasi aktifitas di luar rumah, menjaga jarak dari orang yang diduga berpotensi terpapar virus, hingga mengkarantina diri sendiri dan lain sebagainya.
Memang setiap peristiwa terjadi atas kehendak dan izin Allah Swt.
Tidak ada makhluk apapun yang mampu memberi manfaat dan atau mendatangkan mudharat kepada siapapun, kecuali hal itu terjadi atas izin dan kehendak yang telah ditakdirkan oleh Allah Swt.
Namun, Tuhan juga menghendaki upaya ikhtiar manusia yang sejalan dengan sunnatullah.
‘Umar ibn al-Khaththab ra. telah mencontohkan ikhtiar cara untuk menghindarinya. Sedangkan Amr ibn ‘Ash ra. sudah memperlihatkan ikhtiar cara menghentikannya.
Kedua, hendaknya umat beriman meningkatkan intensitas zikir dan do’a.
Dalam literatur agama, zikir dan do’a memiliki keutamaan tersendiri bagi seseorang.
Disamping sebagai isyarat dan wujud pengakuan akan kebutuhan dan sangat ketergantungan dirinya dengan Tuhan, zikir dan do’a juga akan menumbuhkan rasa percaya diri dan sikap optimis.
Keyakinan akan tumbuh semakin kuat bahwa ada Zat Yang Maha Kuasa yang menguasai dan mengendalikan semua jenis makhluk-Nya, termasuk makhluk yang bernama virus.
Di antara lafzh zikir yang direkomendasi para ulama’ dalam hal ini antara lain adalah sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmizi : “Bismillah allazi la yadhurru ma’a smihi sya’iun fi al-ardhi wa la fi as-sama’ wa huwa as-sami’u al-‘alim”
(Dengan nama Allah yang bila namanya [disebut] tidak satupun makhluk di langit dan di bumi yang mampu medatangkan mudharat.
Dan Dialah Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui).
Kata Rasulullah Saw. : “Siapa yang membaca zikir ini 3 kali di pagi dan petang, maka tidak ada bahaya apapun yang mampu mencelakainya”.
Adapun do’a yang dianjurkan agar terhindar dari bahaya penyakit menular dan segala jenisnya adalah sabda Rasulullah Saw. dari Anas ibn Malik ra. yang diriwayatkan oleh Abu Daud : “Allahumma inni a’uzubika min al-barashi wa al-junun wa al-juzam wa sayyi’ al-asqam” (Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan dari keburukan segala jenis penyakit).
Ketiga, meningkatkan nilai dan kualitas sabar dan syukur.
Dua sikap ini adalah bukti dari sebuah kematangan spiritual seseorang.
Hakikat sabar adalah kemampuan seseorang mengendalikan perasaan dalam merespon suatu keadaan yang mungkin sangat menyakitkan.
Reaksi yang ditunjukkan antara lain sikap tetap tenang, tidak panik dan berpikir rasional.
Sedangkan makna syukur adalah berlapang hati atas semua pemberian Allah Swt., yang mungkin tidak hanya berbentuk nikmat tetapi juga berupa musibah, bencana, penyakit dan lain sebagainya.
Agak aneh memang, terhadap musibah dan penyakit kok disyukuri.
Ya, karena apapun yang Tuhan kehendaki terjadi pasti baik, karena logika manusia terlalu kerdil untuk memaknai apa yang disebut “baik” menurut Tuhan.
Sehingga “baik” dan “buruk” hanya sebuah persepsi yang diciptakan sendiri oleh logika manusia yang sempit.
Sikap syukur seperti inilah yang akan melahirkan husn azh-zhann (positif thingking) terhadap apapun yang terjadi atas kehendak Allah Swt.
Pasti ada hikmah dan tujuan yang dikehendaki dari setiap peristiwa.
Mungkin Allah Swt. ingin agar manusia lebih memaksimalkan potensi intelektualnya untuk memecahkan misteri covid-19 demi kemajuan peradaban umat manusia di masa yang akan datang.
Bukankah kata Rasul Saw. riwayat Al-Bukhari : “tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah pula yang menurunkan penawarnya”.
Keempat, meningkatkan kadar keshalihan sosial dengan memperbanyak sikap berbagi.
Di tengah kepanikan dunia saat ini, terkadang orang lebih fokus pada misi penyelamatan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan orang lain.
Lihat saja misalnya, sejak merebaknya kasus corona –di tanah air khususnya- banyak orang yang mencari selamat sendiri dengan memborong masker dan alat-alat kesehatan.
Sehingga saat ini begitu sulit mencari masker di apotik dan toko obat.
Padahal di sini terdapat poin yang sangat penting bagi seorang beriman.
“Tidak sempurna iman seseorang, sehingga ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri”.
Demikian Sabda Rasul Saw.
Belum lagi nilai-nilai al-itsar yang mengajarkan kepedulian sosial dengan mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.
Tidak hanya itu, ternyata sikap berbagi dalam segala bentuknya dapat menjadi sebab terhalangnya seseorang dari musibah dan bencana.
Tidak sedikit hadits shahih yang menegaskan hal tersebut.
Di antaranya, sabda Rasul Saw. : “Bershadaqahlah, sebab musibah tidak pernah bisa mengalahkan shadaqah”; “Bencana tidak mampu menembus benteng shadaqah seorang mukmin”; “Shadaqah dapat melepaskan pelakunya dari 70 pintu bencana”; “Obatilah penyakitmu dengan shadaqah”; dan “Shadaqah dapat meredam kemurkaan Allah Swt.”
Ternyata shadaqah memiliki fadhilah dan fungsi luar biasa dalam menangkal musibah dan berbagai penyakit.
Covid-19 –sebagaimana makhluk-makhluk nano lainnya- adalah ‘ayatun min ayatillah’ atau bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.
Betapa tidak, hanya terhadap makhluk yang sekecil itu saja, seluruh kekuatan dunia harus dikerahkan menghadapinya.
Begitulah sunnatullah yang berlaku bagi manusia dan alam semesta.
Tuhan kerapkali membungkam sebuah keangkuhan, arogansi dan kesombongan ‘hanya’ dengan menciptakan ‘musuh’ yang remeh.
Dulu, Fir’aun dan pengikutnya pernah dibuat kalang kabut hanya oleh belalang, kutu dan katak. Pun Namruz yang juga sangat berkuasa menjadi tidak berdaya hanya untuk menghadapi serangan nyamuk.
Kini, teknologi dunia mutakhir juga lemah tak bedaya menghadapi makhluk kecil covid-19 yang berukuran 150 nanometer.
Tapi Tuhan punya rencana terbaik, meski logika terkadang tak mampu memaknainya. Wallahu a’lam !

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved