Demi Bangsa, 7 Pahlawan Indonesia Ini Rela Mati Muda, Nomor 4 Paling Tampan
Demi Bangsa, 7 Pahlawan Indonesia Ini Rela Mati Muda dan Gugur di Usia 20-an, Nomor 4 Paling Tampan
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: Refly Permana
SRIPOKU.COM - Selamat Hari Pahlawan, 10 November!
Hari Pahlawan adalah hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, dan diperingati pada tanggal 10 November setiap tahunnya di Indonesia.
Hari ini untuk memperingati Pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945,di mana para tentara dan milisi indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.
Bung Tomo salah satu pahlawan yang berjasa dalam pertempuran ini.
Tapi bukan hanya Bung Tomo saja yang berjuang dalam pertempuran tersebut.
Banyak nama-nama pahlawan lain yang rela mati demi memperjuangkan Indonesia.
Mereka yang maju di medan perang, telah bersiap untuk menyerahkan nyawanya, bahkan dengan cara yang tragis sekalipun.
Namun, di masa kini kamu tak perlu angkat senjata dan tak usah maju ke medan pertempuran untuk bisa menjadi seorang pahlawan yang berbudi pekerti luhur.
• Palembang Electric Fun Run, Tiga Peserta Ini Capai Finish dalam Waktu 11 Menit
• Hari Pahlawan, Ini 6 Tokoh yang Baru Diberi Gelar Pahlawan Oleh Presiden Jokowi, No 4 Seorang Dokter
• Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama, Ditetapkan Presiden Jokowi Sebagai Pahlawan Nasional!
Dimulai dengan hal-hal positif yang mampu untuk membangkitkan rasa saling menghargai sesama.
Karena seumuran dengan kaum milenial, ada 7 pahlawan sebelum dan setelah kemerdekaan yang harus rela meregang nyawa demi nasib baik bangsa.
Jika tak mau merdeka, sudah tentu para pemuda ini tak bersedia angkat senjata.
Merekalah yang gugur di usia yang masih sangat muda, jika dibandingkan denganmu sekarang yang masih kuliah atau bekerja.
Dengan pasrah, pahlawan muda ini rela menyerahkan nyawa usia 20-annya untuk bangsa.
Siapa saja mereka, berikut ulasannya!
1. Wolter Monginsidi (24 tahun)
Semasa hidupnya (1925-1949), Monginsidi adalah seorang guru asal Sulawesi.
Kegiatan mengajarnya harus terhenti demi hasrat bergabung dengan pejuang lainnya menentang Belanda.
Namun sayang, Monginsidi justru mendapati 8 peluru dari Belanda bersarang ditubuhnya saat tak bersedia diajak berunding.
Robert dilahirkan di Malalayang (sekarang bagian dari Manado), anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa pada tanggal 14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert Wolter Monginsidi semasa kecil adalah Bote.
Dirinya memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (bahasa Belanda: Hollands Inlandsche School atau (HIS), yang diikuti sekolah menengah (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO) di Frater Don Bosco di Manado.
Mongisidi lalu dididik sebagai guru Bahasa Jepang pada sebuah sekolah diTomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung, Minahasa, dan Luwuk, Sulawesi Tengah, sebelum ke Makassar,Sulawesi Selatan.
2. Kartini

Wanita inilah sang pendobrak dan pejuang kesetaraan gender (1879-1904)
Buku 'Habislah Gelap Terbitlah Terang' karyanya hingga kini telah melegenda.
Perjuangannya mencerdaskan wanita Jawa kala itu harus terhenti di umur 25 tahun karena sakit preeklampsia seusai melahirkan anaknya.
Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa.
Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.
Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.
Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit.
Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.
3. Halim Perdanakusuma (25 tahun)

Yang kita kenal, nama ini kini telah diabadikan sebagai nama sebuah bandara di Jakarta.
Ternyata di balik kegagahan namanya ini tersingkap kisah kepahlawanan yang singkat (1922-1947).
Berpendidikan sebagai navigator dan andil besarnya untuk AURI, Halim ditugaskan memimpin pasukan penerjun di Kalimantan.
Kegagahannya ini harus menyerah dalam kecelakaan pesawat bersama Opsir Iswahyudi di Malaysia.
4. Pierre Tendean (26 tahun)

Sebagai seorang ajudan Jenderal AH Nasution, Pierre Tendean menjadi sosok perwira yang setia (1939-1965).
Dirinya menjadi korban penculikan saat peristiwa 1965 bersama 6 jenderal lain.
Demi melindungi AH Nasution yang akan diculik, Pierre mengaku jika dirinya adalah sang jenderal.
Lalu dia dibawa pergi dan tak pernah kembali.
Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai Ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang ajudan Pak Nas, yang gugur dalam misi perdamaian di Kongo Afrika tahun 1963.
Akhirnya dengan pangkat Letnan Satu Czi, ia dipromosikan menjadi Kapten Anumerta setelah kematiannya.
Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia tepatnya pada tanggal 5 Oktober 1965.
• Kilas Balik SFC Vs Persewar di Sidoarjo, Bobby Satria Cedera Hingga Pertandingan Dihentikan Penonton
• Ucapan Presiden Soekarno yang Melegenda, Pasang Status WhatsApp Tularkan Semangat Para Pahlawan
• Hari Pahlawan, Ini 6 Tokoh yang Baru Diberi Gelar Pahlawan Oleh Presiden Jokowi, No 4 Seorang Dokter
5. I Gusti Ngurah Rai (29 tahun)

Pahlawan asal Badung, Bali ini, sudah sering kita melihatnya di dompet.
Wajahnya diabadikan dalam cetakan uang nominal Rp 50 ribu.
Selain itu namanya juga terabadikan sebagai bandara di Bali.
I Gusti Ngurah Rai-lah yang memimpin 'Puputan Margarana' di Bali.
Sebuah perlawanan habis-habisan kepada Belanda yang membuat pasukan I Gusti terdesak dan gugur dengan gagah berani (1917-1946).
6. Martha Christina Tiahahu (17 tahun)

Usia yang sangat belia untuk wafat di medan pertempuran.
Putri dari Kapitan Pattimura ini terkenal sebagai gadis berkonsekuensi tinggi berjuang di samping ayahnya (1800-1818).
Saat akan melepaskan Pattimura yang dihukum mati, Martha justru ditangkap kompeni dan dibuang ke Pulau Jawa hingga menemui ajalnya, 2 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-18.
7. Slamet Riyadi (22 tahun)

Banyak kisah heroik yang muncul dari sosok Letnan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi asal Solo.
Mulai masa perjuangannya di Jawa Tengah hingga pemberontakannya di Maluku (1927-1950).
Dikenal sangat licin dan sudah ditangkap Belanda, Slamet Riyadi terpaksa roboh saat sebuah peluru dari sniper menembus perutnya saat Gerakan Operasi Militer di Maluku.
Itulah kisah berani mati 7 pahlawan di atas yang nggak urusan dengan umur mereka, yang penting Indonesia merdeka.
Bercermin dari cerita-cerita mereka, hal positif apa yang sudah kamu lakukan untuk keberlangsungan negara ini?
Di usia negara yang telah 72 tahun ini, semoga perayaan kemerdekaan yang ada dapat diresapi dan dimaknai dengan tepat.