Breaking News:

Layaknya Bumi, Planet Mars Pernah Punya Danau Air Asin

Sekelompok ilmuwan geologi dari Texas A&M University College baru-baru ini menemukan fakta bahwa Planet Mars pernah memiliki danau air asin layaknya d

https://sains.kompas.com/
Potret diri robot Curiosity milik NASA, di singkapan datar yang disebut John Klein situs untuk kegiatan pengeboran batu di Planet Mars, 3 februari 2013. Foto direkam kamera Mars Hand Lens Imager yang terpasang di lengan robot. (NASA/JPL-Caltech/MSSS) 

SRIPOKU.COM - Sekelompok ilmuwan geologi dari Texas A&M University College baru-baru ini menemukan fakta bahwa Planet Mars pernah memiliki danau air asin layaknya di Bumi.

Kelompok ilmuwan itu dipimpin oleh Marion Nachon dari Department of Geology and Geophysics. Obyek yang mereka teliti adaah Gale Crater, kawah yang memiliki diameter 152 kilometer.

Kawah ini telah diteliti oleh armada NASA yakni Curiosity sejak 2012, sebagai bagian dari misi Mars Science Laboratory (MSL).

Usai Gerhana Bulan Total, Planet Mars Masih Akan Tampak di Bumi Hingga 31 Juli 2018 ini

Fenomena Langka! Ini Keistimewaan Planet Mars saat Gerhana Bulan Total pada 28 Juli 2018

Mengutip Science Daily, Senin (28/10/2019), diketahui bahwa Gale Crater dulunya merupakan danau air asin. Namun danau tersebut telah kering pasca periode basah dan kering (wet and dry period) di Pulau Mars.

Gale Crater terbentuk sekitar 3,6 juta tahun lalu akibat jatuhnya meteor.

“Sejak itu, lanskap geologis terus tercatat di permukaan Pulau Mars. Hasil pengamatan dari Gale Crater, air asin pernah mengisi danau tersebut dan seperti yang kita tahu, air asin adalah kunci dari kehidupan mikroba,” tutur Marion Nachon.

Saat periode kering (dry period), danau air asin di Gale Crater terbentuk. Namun karena permukaan Planet Mars menjadi lebih kering seiring berjalannya waktu, danau itu pun mengering.

Planet Mars kemudian kehilangan ladang magnetik, sehingga atmosfirnya langsung terpapar angin dan sinar matahari. Planet Mars pun terkena radiasi selama jutaan tahun lamanya.

“Dengan atmosfer yang semakin tipis, tekanan di permukaan planet semakin berkurang, dan kondisi untuk air stabil di permukaan menjadi tidak mungkin. Jadi air tersebut menguap,” tambah Marion.

Fenomena cermin langit raksasa di Salar de Uyuni, Bolivia.Shutterstock Fenomena cermin langit raksasa di Salar de Uyuni, Bolivia.
Altiplano

Halaman
12
Editor: Bejoroy
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved