Kemarau, Harga Singkong Justru Turun, Dampak Panen Raya Wilayah Lampung

Harga ubi racun bukannya mengalami kenaikan. Justru mengalami penurunan sejak beberapa Minggu terakhir.

Penulis: Evan Hendra | Editor: Refly Permana
sripoku.com/evanhendra
Harga Singkong racun di Kabupaten OKU Timur mengalami penurunan meskipun musim kemarau dampak panen raya diwilayah Lampung. 

Laporan wartawan sripoku.com, Evan Hendra.

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Musim kemarau yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir biasanya diiringi dengan naiknya sejumlah hasil pertanian.

Tanpa terkecuali ubi racun yang dijadikan sebagai tepung tapioka.

Musim kemarau tahun 2019 justru sebaliknya. Harga ubi racun bukannya mengalami kenaikan. Justru mengalami penurunan sejak beberapa Minggu terakhir.

Penurunan harga tersebut diduga disebabkan oleh banyaknya petani yang panen didaerah Lampung sehingga berimbas pada petani yang ada di wilayah OKU Timur dan sekitarnya.

Harga ubi racun di Kabupaten OKU Timur saat ini berkisar antara Rp. 1090 hingga Rp. 1200 Per kilogram.

Padahal tahun sebelumnya harga ubi racun memasuki musim kemarau seperti saat ini mencapai hingga Rp. 1450 bahkan lebih per kilogramnya.

Penurunan harga tersebut diduga disebabkan oleh banyaknya petani ubi racun di wilayah Lampung melakukan pemanenan saat turun hujan beberapa kali Minggu lalu.

"Biasanya saat musim kemarau petani enggan memanen ubi racun. Itu yang menyebabkan harganya semakin mahal.

Namun ternyata saat ini justru menurun. Kemungkinan imbas dari banyaknya petani yang panen di wilayah Lampung dalam beberapa Minggu terakhir," ungkap Hamid (39) Warga Batumarta ketika dikonfirmasi Minggu (13/10/2019).

Warga daerah Lampung kata dia memanfaatkan hujan yang turun beberapa kali bulan lalu untuk melakukan pemanenan ubi racun.

Banyaknya warga yang memanen ubi racun menyebabkan harga mengalami stagnan bahkan mengalami penurunan.

Petani kata dia, tidak memiliki pilihan selain melakukan pemanenan dengan harga yang rendah atau menunggu hingga musim penghujan tiba dengan resiko harga kembali mengalami penurunan.

Sementara Muhammad petani lainnya mengaku sudah melakukan pemanen pada tanaman singkong miliknya.

Dirinya menjual singkong pada saat harga masih bertahan pada angka Rp. 1200 per kilogram.

"Saya sudah memanen beberapa bulan lalu. Namun saat ini tidak bisa menggarap lahan karena masih musim kemarau. Lahan terpaksa ditinggalkan setelah dibajak hingga musim penghujan," katanya.

Dirinya berharap musim penghujan bisa segera turun sehingga dirinya bersama petani lainnya bisa segera melakukan penggarapan lahan untuk menanam ubi racun maupun menanam pertanian lainnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved