Inilah 7 Kisah Damai Menjaga Toleransi Keberagaman Indonesia. . .
"Yang patut kita syukuri adalah bahwa di tengah berbagai tantangan dan terpaan badai sejarah, Indonesia tetap berdiri kokoh sampai hari ini.
SRIPOKU.COM - Pada momentum Hari Ulang Tahun RI ke-74, Presiden Joko Widodo menulis di akun Instagramnya @jokowi tentang Indonesia sebagai rumah besar yang nyaman untuk semua, tempat semua.
"Yang patut kita syukuri adalah bahwa di tengah berbagai tantangan dan terpaan badai sejarah, Indonesia tetap berdiri kokoh sampai hari ini. Semua itu karena kita memiliki fondasi yang sangat kuat, Pancasila -- dasar negara, bintang penjuru, pemersatu kita semua. Di rumah Pancasila ini, kita hidup rukun meski berbeda latar belakang agama, asal usul suku, ras, maupun golongan.
Rumah besar Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk semua, tempat semua anak bangsa bisa berkarya, bergerak, dan berjuang untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita.
Persatuan Indonesia akan selalu sentosa. Seperti kiambang-kiambang yang bertaut kembali, setelah biduk pembelah berlalu.
Dengan semangat persatuan Indonesia, rumah besar kita tidak akan runtuh, tidak akan ambruk, dan tidak akan punah, tetapi justru berdiri tegak. Bukan hanya untuk 100 tahun, 500 tahun, tapi untuk selama-lamanya," tulis Jokowi.
• Akhmad Najib: Perayaan Cap Gomeh Wujud Keberagaman Masyarakat Palembang yang Damai
• Jaga Keberagaman, Panglima TNI Ingatkan Pancasila Bukan Milik Satu Golongan
Nah, berikut 7 kisah damainya menjaga toleransi yang menggambarkan keberagaman di Indonesia.
1. Di Timika, anak muda Katolik Kristen, Hindu, Budha jaga Salat Id

Pemuda dan pemudi lintas agama ikut mengamankan pelaksanaan shalat Idul Fitri 1440 Hijriah di Timika, Papua, Rabu (5/6/2019).
Ketua FKUB Mimika Ignastius Adii mengatakan, ada 65 pemuda dan pemudi dari latar belakang agama Katolik, Protestan, Hindu dan Budha yang terlibat dalam mengamankan Shalat Ied di Timika.
"Totalnya 65 orang semua," kata Ignatius.
Ia mengatakan selaa ini toleransi umat beragama di Kabupaten Mimika terjalin dengan baik.
Ia mencontohkan saat umat Kristiani merayakan Natal dan Paskah, remaja masjid juga ikut terlibat mengamankan gereja.
"Kami di Mimika memang toleransinya beragamanya sangat baik, dan saling menghargai," tuturnya.
2. Dosen sediakan makanan untuk mahasiswa yang puasa

Rusli Ginting, dosen di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, menoleransi waktu berbuka dan mentraktir makanan bagi mahasiswanya yang sedang berpuasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/toleransi-beragama.jpg)