Berita OKU Timur

Dampak Musim Kemarau, Penambang Pasir Di OKU Timur Kesulitan Dapatkan Pasokan Pasir

Penambang pasir baik tradisional maupun mesin mengalami penurunan omzet akibat musim kemarau yang sudah berlangsung sejak beberapa Minggu terakhir

Dampak Musim Kemarau, Penambang Pasir Di OKU Timur Kesulitan Dapatkan Pasokan Pasir
SRIPO/EVAN HENDRA
TAMBANG PASIR - Penambang pasir di Kabupaten OKU Timur mengalami kesulitan mendapatkan pasir karena kondisi air sungai yang mengecil. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Musim kemarau yang sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir selain menyulitkan masyarakat mendapatkan air bersih juga menyulitkan masyarakat yang sehari-hari beraktifitas sebagai penambang pasir.

Penambang pasir baik tradisional maupun mesin mengalami penurunan omzet akibat musim kemarau yang sudah berlangsung sejak beberapa Minggu terakhir. Sulitnya penambang galian golongan C tersebut mendapatkan pasokan pasir disebabkan karena aliran sungai yang kecil dari hulu sungai sehingga tidak mampu membawa pasir.

Selain penambang pasir, penambang koral juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan koral karena pengaruh debit air yang sangat kecil.

"Biasanya dalam satu hari bisa beberapa kali membawa pasir menggunakan dump truk lima kubik. Namun sejak satu Minggu terakhir kami mengalami kesulitan mendapatkan pasir karena pertambangan sedang stop," ungkap Didi (43) penjual pasir ketika dikonfirmasi Minggu (28/7).

Menurut Didi, sejak dua Minggu terakhir dirinya dalam satu hari hanya bisa menjual satu kali jalan dengan kapasitas lima kubik. Untuk mendapatkan pasir tersebut juga kata dia, sangat sulit karena harus mengantri dan menunggu terlebih dahulu sejak pagi hari karena harus mengantri.

Kasus Penembakan oleh Brigpol IP Terhadap M Ridwan Pengamen yang Memalaknya Direkonstruksi

Redam Barang Impor, Himpunan Pengusaha Online Internasional Sepakat Pasarkan Produk Secara Online.

"Kita menggunakan dump truk. Kalau menggunakan mobil carry satu atau dua kibik cepat dapat. Karena kita tidak jalan sebelum cukup jadi harus menunggu terlebih dahulu," katanya.

Meskipun pasokan pasir mengalami penurunan kata dia, namun harga jual tetap sama yakni Rp. 250 ribu per lima kubik. Harga tersebut tidak bisa menutupi kebutuhan sopir maupun minyak jika hanya satu kali antar.

Sedangkan Novianto penambang pasir di Desa Tanjung Kemala ketika dikonfirmasi membenarnya sulitnya mendapatkan pasokan pasir akibat dampak dari musim kemarau yang menyebabkan kecilnya aliran sungai Komering.

Launching Sumsel Bugar, Herman Deru Kayuh Sepeda dari Griya Agung ke BKB

VIRAL Mendapatkan Pelecehan dari Orang tak Dikenal (OTD), Wanita Ini Menangis Ketakutan

"Biasanya menambang pasir itu disedot. Pasirnya memenuhi lubang yang dibawa oleh arus. Kalau alirannya kecil pasir tidak memenuhi lubang yang akan disedot. Kadang harus menunggu lama baru mendapatkan pasir," kata Novi.

Menurut Novi, jika saat musim pengujan mesin penyedot tidak pernah berhenti hingga pasokan pasir penuh, berbeda dengan saat musim kemarau. Mesin sedot hanya hidup beberapa jam saja dengan hasil yang sangat minim dan langsung diambil oleh pembeli.

"Tidak sempat banyak. Air kecil jadi pasir yang bisa disedot sedikit. Itu juga kadang sudah dipesan. Namun harga tidak naik. Jadi penghasilan menurun drastis sejak musim kemarau ini," katanya. (hen).

Penulis: Evan Hendra
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved