Berita Palembang
SMAN Belitang Borong Juara Lomba Video Pendek Penanggulangan dan Pencegahan Teroris
SMAN Belitang memborong juara lomba video pendek yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Tarso
Laporan wartawan sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - SMAN Belitang borong juara lomba video pendek yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7/2019).
Untuk lomba video pendek juara III diraih Ponpes Muqimus Sunnah dengan judul Korea-Korea.
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sejak dulu sangat dikenal dengan semangat gotong-royongnya, berbagi dengan sesama , saling menghargai satu dengan yang lain sehingga kerukunan selalu tercipta di Sumsel.
Walaupun demikian potensi kekerasan dan terorisme selalu ada di wilayah Sumatera terutama kaum pemuda yang jika timbul sikap menyendiri, tidak mau bergaul dan mereka itu benar sendiri.
“Dan sudah terkenal di Sumsel ini bahwa banyak pendatang terutama dari transmigrasi, beragam budaya dan agamanya tapi bisa bersatu bersama, ini kita kembangkan lagi, kita pelihara lagi terutama dari sekolah-sekoah dasar, SMP, SMA sampai perguruan tinggi, sehingga pemuda-pemuda kita itu paham betul bahwa sebenarnya tanggungjawab Indonesia ini ada dengan mereka,“ ungkap Inspektur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Dr. Amrizal, M.M di sela-sela acara Satu Indonesia, Lomba Video Pendek dan Diskusi Film.
Menurutnya, paham-paham radikalisme kalau dulunya berhadapan dengan gurunya, kakaknya atau kelompok tapi sekarang tidak, sekarang dengan media sosial.
“Itu berbahaya bagi mereka kenapa mereka langsung mengambil habis, itu paham kekerasan, radikalisme yang suka menjelek-jelekkan, suka berprasangka tidak baik pada orang dan membenarkan dirinya sendiri,” katanya.
Karena itu menurutnya masyarakat harus diberikan pemahaman khususnya para pemuda agar paham menggunakan informasi tehnologi itu.
Sehingga informasi yang ada jangan langsung diterima mentah-mentah, jangan langsung disampaikan tanpa disaring dari informasi harus disaring dulu baru di sharing, apakah informasi itu benar, baik apakah berguna atau bermanfaat bagi masyarakat.
Dan dari penelitian yang dilakukan Institut Wahid itu sudah ada tingkat pelajar yang terpapar paham radikalisme yang umur 6 dengan 14 tahun daerahnya sudah banyak pulau Jawa dan Sumatera yang terpapar hingga 14 persen.
• Pemkab PALI Hibahkan Lahan 10 Hektare untuk Pusat Latihan Tempur Kompi Senapan Yonif 141/AJYP
• Pemkab Muba Dukung Pembangunan Energi, Dodi Reza Upayakan Pemenuhan Energi Ramah Lingkungan
• Berhasil Curi 3 Poin dari Persibat Batang, Bonus Menang Sriwijaya FC Segera Cair, Ini Kata Hendri Z
“Tahun 2014 itu ada anak yang SD dia bisa bikin bom dari Media sosial, belajar dari situ, ini bahanyanya sekarang dari internet mudah sekali mereka dapat berita dan informasi yang kita simak dengan baik informasi sangat menyesatkan. Upaya kita, melakukan penndekatan seperti hari ini lomba video pendek kita berikan bagaimana pemuda kota membuat karya seni berupa film yang mengambarkan mereka bersatu walaupun beda budaya, agama, bahasa dan adat istiadat,” katanya.
Sedangkan Ketua FKPT Sumsel, DR Periansyah mengatakan, radikalisme, terorisme itu adalah paham global yang jauh dari kearifan lokal.
“Di Sumsel ini sebenarnya gak ada tetapi dunia yang sudah mengglobal ini orang bisa tahu dengan menggunakan gadget dan peran guru dan tua penting dalam menangkap menangkap pemahaman-pemahaman radikan tersebut, kalau tidak ya kita semua akan kebobolan,” katanya.
Salah satu langkah yaitu hari ini pihaknya menggelar diskusi film tentang Cinta Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pemanang-lomba-video-pendek.jpg)