Berita OKU Timur

Kalah Bersaing dengan Smartphone, Banyak Pemilik Warnet di OKU Timur Gulung Tikar Lirik Profesi Lain

Kalah Bersaing dengan Smartphone, Banyak Pemilik Warnet di OKU Timur Gulung Tikar, Lirik Profesi Lain

Penulis: Evan Hendra | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Salah seorang pengusaha warnet yang masih menunggu pelanggan yang tak kunjung datang, Selasa (16/7/2019). 

Kalah Bersaing dengan Smartphone, Banyak Pemilik Warnet di OKU Timur Gulung Tikar, Lirik Profesi Lain

Laporan wartawan Sripoku.com, Evan Hendra

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Gencarnya smartphone android dengan fitur lengkap dan memudahkan masyarakat membuat pengusaha warung internet (Warnet) mengalami penurunan penghasilan karena sepinya pelanggan.

Tidak sedikit warnet yang terpaksa gulung tikar karena pemasukan yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang disebabkan sepinya pengunjung.

"Saat ini hanya ada beberapa warnet saja yang masih bertahan karena menyediakan layanan games atau layanan lainnya yang membuat pengunjung betah."

"Hampir sebagian besar warnet gulung tikar karena tingginya biaya operasional dengan pemasukan yang sangat minim," ungkap Anto salah satu pengusaha warnet di Gumawang, Selasa (16/7/2019) ketika dikonfirmasi.

Menurut Anto sepinya warnet saat ini disebabkan karena banyaknya android yang memiliki fitur cangih, yang dapat mengakses internet, sehingga masyarakat enggan untuk ke warnet.

"Sekitar dua tahun yang lalu warnet mulai ditinggal pelangan. Terutama sejak munculnya android."

"Kalau dulu banyak yang akses facebook di warnet, tapi kalau sekarang bisa diakses lewat android," katanya.

Beberapa faktor menurut Antok juga mempengaruhi sepinya warnet di antaranya tarif internet yang murah, karena saat ini provider berlomba-lomba dalam mencari pelanggan sebanyak-banyaknya dengan harga semurah-murahnya.

"Kecepatan akses internet di warnet yang tidak memuaskan karena banyak dijumpai warnet lelet sehingga warga jadi enggan ke warnet," katanya.

Saat ini, kata dia, dalam satu hari dirinya hanya mendapatkan pelangan lima sampai delapan orang saja.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang mencapai hingga 20 orang pelanggan bahkan lebih yang mengakses Internet hingga berjam-jam.

"Kalau sekarang paling hanya orang yang numpang ngeprint saja, terus anak-anak yang kecil yang main game," jelasnya.

Menurunnya penghasilan dengan biaya operasional yang tinggi membuat dirinya berencana menjual peralatan warnetnya.

Saat ini dirinya sudah menawarkan PC warnet miliknya dan masih menunggu pembeli yang cocok.

"Kalau ada yang berminat dan harganya cocok akan saya jual peralatan warnet ini, saya akan beralih ke profesi lain," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved