Duplikatnya Kota Madinah

Desa “Islami” Temboro Magetan, Duplikatnya Kota Madinah

Kita patut berbangga karena ada salah satu desa di Indonesia menampilkan suasana Islami dan bahkan digelari sebagai kota Madinah-nya Indonesia.

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
(KOMPAS.com/SUKOCO)
Seluruh warga Desa Temboro mengenakan pakaian islami dalam kesahariannya. 

 Desa “Islami” Temboro Magetan,  Duplikatnya Kota Madinah

SRIPOKU.COM, MAGETAN  -- Kita patut berbangga karena ada salah satu desa di Indonesia menampilkan suasana Islami dan bahkan digelari sebagai kota Madinah-nya Indonesia.

Salah satu bukti, aktivitas seluruh masyarakat di Desa Temboro di Kabupaten Magetan, Jawa Timur yang dijuluki Kampung Madinah, betul-betul sepi saat azan berkumandang hingga shalat berjemaah selasai baik di mesjid maupun musholla atau langgar .

Hampir seluruh warganya pergi ke masjid atau surau desa untuk beribadah.

Ali (50) dan pedagang lainnya terlihat mengemasi barang dagangan mereka. Sejumlah pembeli juga bergegas menyelesaikan belanjaannya.

Sejenak kemudian, suasana jalan desa yang ramai oleh lalu lalang orang perlahan mulai sepi.

"Kalau sudah azan jalan mulai sepi, kami tutup sebentar untuk salat zuhur. Jam 1 nanti baru buka lagi,” ujar Ali sambil menutup pintu tokonya.

Setelah salat, Ali terlihat sibuk menyusun lemari kecil dan meja lipat di depan tokonya yang terletak di jalan utama menuju Pondok Al Fatah Temboro Senin siang.

Di hari itu ada pertemuan wali santri (penerimaan santri baru) di Pondok Al Fatah Temboro.

Saat pertemuan wali santri, banyak para santri baru mencari lemari kecil dan alas tidur.

Saat musim penerimaan santri baru, ia mengaku mampu menjual ratusan lemari kecil serta lebih dari seribu meja lipat. “Lemari itu bisa 150 lemari.

Kalau meja kecil tahun kemarin habis seribu,” ujarnya Senin (17/06 /2019).

Selain Ali, sejumlah pedagang baju muslim yang membuka lapak di sepanjang jalan menuju pondok pesantren juga turut ketiban rejeki.

Erwin salah satu pedagang baju gamis mengaku mendapatkan omzet besar saat pertemuan wali santri seperti saat ini.

Dia mengaku mendatangkan baju gamis dari Surabaya dan Jakarta untuk dijual. "Ramai, ini pertemuannya se Asia Tenggara. Banyak santrinya. Tahun kemarin omset bisa Rp 150 juta selama kegiatan,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved