Berita Palembang

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Palembang Naik, Kepala BPPD Shinta Raharja Siap Didemo Warga

Pasca kenaikan pajak bumi dan bangunan (PBB) diakui kepala Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD), Shinta Raharja mengaku banyak spekulan tanah

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Palembang Naik, Kepala BPPD Shinta Raharja Siap Didemo Warga
SRIPOKU.COM/YANDI TRIANSYAH
Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah (BPPD) Kota Palembang, Shinta Raharja 

Laporan wartawan Sripoku.com Yandi Triansyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pasca kenaikan pajak bumi dan bangunan (PBB) diakui kepala Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD), Shinta Raharja mengaku banyak spekulan tanah yang mengutus orang untuk menanyakan perihal naiknya nilai PBB.

"Banyak yang datang, ngotot nanyakan PBB tapi begitu kami perdalami ternyata bukan punya mereka utusan," kata Shinta, Rabu (15/5/2019) saat ditemui di Kantor BPPD Jalan Merdeka Palembang.

BREAKING NEWS : Ratusan Ibu-ibu Buruh Pabrik Roti di Palembang Mogok Kerja, Demo di Depan Pabrik

Lupa Punya Dua Istri, Kiwil Ceritakan Fakta Rohimah & Meggy Wulandari, Terungkap Hubungan Keduanya!

Berani Habisi Nyawa Lawan, Petinju Deontay Wilder Beberkan Alasannya

Menurut dia, pihaknya tak mengerti banyak yang protes mengenai kenaikan PBB ini padahal kenaikan itu mayoritas orang yang mampu.

Sebab bagi warga yang tidak mampu sudah dibebaskan oleh Pemkot Palembang.

"Jadi apa motifnya, kenapa tidak yang bersangkutan langsung mengajukan keberatan. Kami duga ada spekulan tanah yang bermain," kata dia.

Shinta mengaku siapa yang protes kalau memang yang kena kebijakan kenaikan PBB bagi orang mampu tapi kenapa tidak mampu bayar.

Lucinta Luna Blak-Blakan Akui Operasi Alat Vital Lagi, Begini Reaksinya Pamer Tubuh Sang Inspirasi

Tinggal di Tenda Darurat Selama Puasa, Korban Kebakaran Lorong Hijriah Palembang Butuh Bantuan

Meski Sudah Bercerai, 5 Pasangan Artis Ini Masih Berhubungan Baik, No 3 Bahkan Tetap Romantis!

Menurut dia, nilai ONJP yang diterapkan hanya 10 persen dari nilai harga pasaran. Kalau pihaknya menerapkan nilai sebenarmya maka lebih besar lagi.

"Kita hanya menerapkan 10 persen saja dari nilai pasar," kata dia.

Kata dia, kenaikan ini dikarenakan adanya kenaikan PAD Khususnya pajak dulunya Rp 748 miliar menjadi Rp 1,3 Triliun.

Halaman
12
Penulis: Yandi Triansyah
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved