Mutiara Ramadan

Rahasia Iktikaf yang Penuh Manfaat

FENOMENA iktikaf yang dilakukan masyarakat muslim selama bulan Ramadhan senantiasa tampak berulang dari tahun ke tahun. Seolah menjadi perbuatan rutin

Rahasia Iktikaf yang Penuh Manfaat
https://www.google.co.id/
Ilustrasi. 

Oleh: DR. Muhammad Adil, MA
Dosen Program Pascasarjana UIN Raden Fatah

FENOMENA iktikaf yang dilakukan masyarakat muslim selama bulan Ramadhan senantiasa tampak berulang dari tahun ke tahun. Seolah menjadi perbuatan rutin dalam rangka menyemarakkan syiar Islam dalam mengisi bulan yang penuh dengan barakah dan ampunan ini. Maka tidak jarang kita temui tempat-tempat ibadah seperti masjid, mushallah, langgar, dan surau penuh disesaki oleh para jamaah untuk melakukan iktikaf mengisinya dengan membaca Alquran, shalat sunnah, duduk berdiam, dll. Kondisi ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Dengan arti kata lain, bahwa iktikaf sepertinya hanya dilakukan secara massif pada bulan Ramadhan saja.

Inilah Panduan dan Tata Cara Iktikaf Berdasarkan Sunnah Rasulullah SAW

Tuntunan Beriktikaf

Kalimat al-i'tikafu mustahabbun (iktikaf itu perbuatan yang dianjurkan) yang sering ditemui dalam hampir semua kitab fikih merupakan perbuatan sunnah yang penuh dengan manfaat dan keberkahan. Namun demikian, khalayak jarang sekali mengetahui maksud sebenarnya dari perbuatan ini, termasuk rahasia spiritualitas di dalamnya. Tentu, kita yakin betul bahwa perbuatan sunnah yang telah diajarkan praktiknya oleh Nabi Muhammad saw memiliki segudang tujuan dan manfaat.

Untuk memahami makna penting iktikaf, ada baiknya kita memperhatikan kembali pernak perniknya. Berasal dari kata 'akafa-ya'kufu-ukufan' yang berarti tetap pada sesuatu. Ada banyak komentar penjelasan tentang pengertian ini, pertama, datang dari Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam buku Fadhilah Ramadhan, bahwa iktikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan niat iktikaf. Kedua, Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah, menjelaskan bahwa iktikaf adalah menetap di suatu tempat dan berdiam diri tanpa meninggalkan tempat itu, baik untuk melakukan amal kebaikan maupun kejahatan. Penjelasan ini senada dengan Firman Allah swt dalam Alquran Surat al-Anbiya ayat 52 bahwa, "(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?". Menurutnya, mereka menetap di tempat itu dengan tujuan beribadah kepada patung-patung itu. Namun demikian, Sabiq menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Alaah swt. Ketiga, menurut al-Kubaisi, secara bahasa iktikaf bermakna menetap, mengurung diri, dan terhalangi. Untuk pengertian ini sesuai dengan Firman Allah swt dalam Surat al-Baqarah ayat 187 ". tetapi janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istri), sedang kamu menetap dalam masjid (ber'itikaf)." Keempat, al-Marghainani mendefinisikan iktikaf dengan menetap dalam masjid yang disertai puasa dan niat iktikaf. Kelima, Menurut Muhammad bin Faramuz, iktikaf adalah menetapnya seorang laki-laki dalam masjid, sendirian atau berjamaah, atau menetapnya seorang perempuan dalam rumahnya (ruangan khusus) dengan niat iktikaf.

Dalam sejarahnya, Sebelum diangkat menjadi Rasul Allah swt, Nabi Muhammad saw memiliki kecintaan untuk mengasingkan diri, dengan tujuan untuk beribadah. Menurut intlektual muslim, Akram Dhiya al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad mengasingkan diri dari kaumnya yang Jahiliyah di gua Hira yang terletak di bukit Hira. Posisi gua itu berada di tempat yang lebih tinggi dari Ka'bah.

Kaitannya dengan iktikaf adalah bahwa selama menyendiri di gua Hira, Nabi Muhammad melakukan tiga bentuk ibadah sekaligus yaitu: menyepi, beribadah, dan melihat Baitullah. Rasulullah menyendiri di gua yang sempit itu selama beberapa malam, kemudian kembali kepada keluarganya, dan kembali lagi untuk menyepi. Demikian Ibnu Abi Jamrah menjelaskan.

Kebiasaan itu berlangsung hingga turunnya wahyu dan diangkatnya Muhammad saw sebagai utusan Allah. Dalam Fathu Bari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw diangkat sebagai nabi pada usia 40 tahun. Imam Baihaqi berkata, "Turun kepadanya kenabian itu pada usia 40 tahun."

Ketika sudah diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk berdakwah dan mengamalkan syariat Islam secara sempurna. Sejak itu, masjid menjadi pilihan tempat untuk beribadah seperti firman Allah dalam Surat al-Jin ayat 18, "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka kamu janganlah menyembah seseorang pun di dalamnya selain (menyembah) Allah".

Menurut Ahmad Abdurazaq al-Kubaisi dalam al-I'tikafu Ahkamuhu wa Ahammiyatuhu fi Hayati Muslim, Nabi Muhammad senantiasa menjalin ikatan dengan Rabbnya. "Dia tidak pernah meninggalkan kegiatan rutin, termasuk amalan berkala tahunan." Salah satu amalan berkala yang dilakukan Rasulullah adalah menyendiri dan memutuskan hubungan dengan berbagai kegiatan keluarga dan masyarakat. Nabi saw menjauhi tempat tidurnya, mengencangkan ikat pinggang, lalu pergi menyendiri ke masjid untuk berdiri dan sujud guna beribadah kepada Rabbnya dengan khusyuk. Amalan itu tak pernah terlewatkan. Bila sakit dan ada alasan lainnya, Rasulullah saw tak pernah lupa mengqadhanya. "Ketahuilah, kegiatan berkala tahunan itu adalah iktikaf, yang biasa dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan," papar al-Kubaisi.

Masih menurut al-Kubaisi, bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan kesempatan terbaik yang dipilihkan Allah swt bagi Rasulullah dan umatnya. Pada kesepuluh terakhir Ramadhan itulah, Nabi Muhammad menyendiri dan ber-khalwat dengan Sang Khalik. Rasulullah bermunajat untuk yang dicintainya, yakni Allah swt. Iktikaf merupakan kesempatan untuk mengungkapkan kepatuhan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Semoga para pembaca ikut mentradisikan ajaran yang penting ini dalam rangka taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). (*)

Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved