Berita Bisnis

Berita Bisnis: Hadapi Nilai Tukar Rupiah Saat Ini, Bisnis Ritel Lokal Masih Tangguh

Di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang melemah, sektor bisnis ritel di Sumatera Selatan masih cukup tangguh.

Penulis: Jati Purwanti | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Konsumen berbelanja produk di salah satu mal di Palembang. Bisnis ritel nasih tetap eksis di tengah nilai tukar rupiah yang melemah saat ini. 

Laporan wartawan sripoku.com, Jati Purwanti

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang kerap terdepresiasi, sektor bisnis  ritel di Sumatera Selatan masih cukup tangguh meski pasar belum begitu bergairah. 

Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Sumsel Hasannuri mengatakan, pelamahan rupiah sejak 2018 nilainya masih fluktuatif serta baru-baru ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, namun bisnis ritel masih cukup aman hingga akhir tahun.

“Untuk kondisi saat ini masih aman, bahkan stok ritel masih ada untuk tiga bulan ke depan. Namun, soal perekonomian tidak bisa dipungkiri dibanding tahun lalu secara year on year, tahun ini memang mengalami penurunan,” ujarya, Senin (22/10/2018). 

Menurut dia, meski alami penurunan, kondisi saat ini belum begitu berpengaruh besar pada perekonomian lokal sebab penurunan belum sampai dua digit.

“Untuk pendapatan memang turun, namun masih satu digit, dan ini wajar, hampir semua sektor mengalami,” katanya. 

Baca: Berita Palembang: Alasan Keamanan, Pembunuhan Satpam PT Lonsum Direkonstruksi di Mapolda Sumsel

 
Hasannuri berkeyakinan kondisi tersebut tidak semuanya terpengaruh oleh menurunnya daya beli masyarakat.

Dikatakannya industri ritel adalah bicara tentang kebutuhan masyarakat, artinya masyarakat saat ini masih sangat butuh dengan produk ritel.

"Saat dolar naik, seharusnya masyarakat sudah mengurangi atau bahkan tidak lagi membeli produk luar (produk impor)," ujarnya lagi.

Daya saing dengan  peritel lain, lanjut dia,  akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis. Pengusaha dituntut untuk terus berinovasi jika tidak ingin tergilas kemajuan apalagi saat ini teknologi kian canggih.

“Kalau secara rata-rata memang mengalami penurunan pendapatan, ini sudah pasti karena beberapa masyarakat memilih menahan diri. Namun, kebutuhan pokok tidak bisa ditahan cukup tinggi, sehingga industri ritel ini tetap akan tumbuh,” lanjutnya.

Dia mengklaim, nilai tukar rupiah hanya akan berdampak signifikan pada produk impor, sedangkan produk lokal akan teta laku di pasaran.

Baca: Berita Bisnis: Program Baru Pit Express Satu Harga di Dealer Berlogo Astra Motor

"Kontribusi pemerintah dalam mendorong agar pelaku UMKM lokal agar semakin kuat sangat diperlukan," jelasnya.

Sementara Ketua Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Sumsel, Co Ing mengatakan, menguatnya dolar tidak  begitu mengkhawatirkan dan dia optimistis pasar ritel masih akan terus tumbuh.

Hal tersebut bisa dilihat dari maraknya  produk-produk lokal yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan modern.

“Produk yang dijajakan di Mal sudah banyak yang berasal dari Indonesia jadi tak pengaruh ke harga. Apalagi saat ini produk yang dijual adalah produk kebutuhan yang memang banyak dicari masyarakat.” katanya. (mg3)

 Konsumen berbelanja produk di salah satu mal di Palembang.
 

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved