Soal Penjarahan Pasca Gempa & Tsunami di Palu, Felix Siauw: Sungguh Mengganggu Nurani

Lebih mengerikan bagi saya adalah bencana kemanusiaan, dimana tidak hanya akal kita yang dibodohi, tapi nurani kita dimatikan.

instagram/AFP PHOTO/MUHAMMAD RIFKI
Warga berusaha menyelamatkan barang-barang dari rumah mereka yang runtuh akibat gempa bumi dan tsunami menghantam Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9/2018). Hampir 400 orang tewas akibat gempa yang disusul tsunami pada Jumat (28/9/2018). 

Bencana Alam & Kemanusiaan

" Pilu hati kita dengan berita akhir-akhir ini.

Gempa Palu, Donggala, Mamuju seperti berkali-kali lipat kesedihan selepas Lombok diguncang kemarin

Akses yang sangat terbatas, kelaparan dan kekurangan yang sangat, belum lagi penjarahan yang dilakukan oleh beberapa orang, benar-benar mengganggu nurani.

Tapi kita mencoba mengerti dan tak menyalahkan lebih jauh lagi, kita tak pernah berada di posisi mereka, kita tak layak melakukan kecuali memberi bantuan.

Kita tak pernah saksikan rumah ditelan tanah, jalan yang membukit, reruntuhan yang menggantikan tanaman tumbang, kita tak layak menghakimi mereka.

Yang menguatkan kita, bahwa masih banyak diantara mereka korban gempa yang bermartabat, punya harga diri, menjaga agar tak terlibas arus maksiat.

Yang menyenangkan kita, banyak perhatian yang juga ditunjukkan oleh ramai ormas, lsm, ataupun individu yang ingin memberi kebaikan semakismal mereka.

Di sisi lain, yang lebih mengerikan bagi saya adalah bencana kemanusiaan, dimana tidak hanya akal kita yang dibodohi, tapi nurani kita dimatikan.

Bagaimana tidak, kita dipaksa menyaksikan episode kedzaliman, mulai dari pemberangusan kelompok Islam, kriminalisasi ulama, sampai intimidasi aktivis.

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana kaos yang dipakai, menjadi simbol makar.

Atas nama NKRI dan Pancasila dan tuduhan, keadilan dicampakkan.

Ibu-ibu dibentak, mobilnya dilempari, kepalanya hampir ditimpa tong sampah, sekarang ibu-ibu digebuki, disiksa, cara-cara biadab agar tujuan mereka tak diganggu.

Bencana alam ini menyakitkan, tapi bencana kemanusiaan ini menghancurkan.

Entah mana yang lebih kita ratapi, entah mana yang lebih dulu kita adukan pada Allah.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved