Soal Penjarahan Pasca Gempa & Tsunami di Palu, Felix Siauw: Sungguh Mengganggu Nurani
Lebih mengerikan bagi saya adalah bencana kemanusiaan, dimana tidak hanya akal kita yang dibodohi, tapi nurani kita dimatikan.
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: Rizka Pratiwi Utami
Bencana Alam & Kemanusiaan
" Pilu hati kita dengan berita akhir-akhir ini.
Gempa Palu, Donggala, Mamuju seperti berkali-kali lipat kesedihan selepas Lombok diguncang kemarin
Akses yang sangat terbatas, kelaparan dan kekurangan yang sangat, belum lagi penjarahan yang dilakukan oleh beberapa orang, benar-benar mengganggu nurani.
Tapi kita mencoba mengerti dan tak menyalahkan lebih jauh lagi, kita tak pernah berada di posisi mereka, kita tak layak melakukan kecuali memberi bantuan.
Kita tak pernah saksikan rumah ditelan tanah, jalan yang membukit, reruntuhan yang menggantikan tanaman tumbang, kita tak layak menghakimi mereka.
Yang menguatkan kita, bahwa masih banyak diantara mereka korban gempa yang bermartabat, punya harga diri, menjaga agar tak terlibas arus maksiat.
Yang menyenangkan kita, banyak perhatian yang juga ditunjukkan oleh ramai ormas, lsm, ataupun individu yang ingin memberi kebaikan semakismal mereka.
Di sisi lain, yang lebih mengerikan bagi saya adalah bencana kemanusiaan, dimana tidak hanya akal kita yang dibodohi, tapi nurani kita dimatikan.
Bagaimana tidak, kita dipaksa menyaksikan episode kedzaliman, mulai dari pemberangusan kelompok Islam, kriminalisasi ulama, sampai intimidasi aktivis.
Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana kaos yang dipakai, menjadi simbol makar.
Atas nama NKRI dan Pancasila dan tuduhan, keadilan dicampakkan.
Ibu-ibu dibentak, mobilnya dilempari, kepalanya hampir ditimpa tong sampah, sekarang ibu-ibu digebuki, disiksa, cara-cara biadab agar tujuan mereka tak diganggu.
Bencana alam ini menyakitkan, tapi bencana kemanusiaan ini menghancurkan.
Entah mana yang lebih kita ratapi, entah mana yang lebih dulu kita adukan pada Allah.