Asian Games 2018

Sangat Diharapkan! Karena 3 Hal Ini Lalu Zohri Gagal Raih Medali, No 3 Paling Ditakuti Atlet

Sprinter andalan Indonesia, Lalu Muhammad Zohri gagal menjadi yang tercepat dalam final 100 meter cabor atletik Asian Games 2018

Penulis: Candra Okta Della | Editor: Candra Okta Della
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ekspresi pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri usai tampil pada babak final Lari 100 meter Putra Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Minggu (26/8/2018). Zohri gagal meraih medali dan hanya mampu finish di posisi ketujuh dengan catatan waktu 10,20 detik. 

Di Olimpiade 2016 di Rio, Bolt menjadi atlet pertama dalam sejarah yang mencatat 'triple triple' yaitu meraih medali emas di nomor 100 meter, 200 meter, dan 4x100 meter.

Medali yang ia raih di nomor lari estafet 4x100 meter pada 2008 dicabut setelah anggota tim, Nesta Carter, dinyatakan menggunakan zat terlarang. Carter mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga.

Sepanjang kariernya, Bolt 'hanya dua kali mencatat prestasi mengecewakan', yaitu medali perunggu di lari 100 meter Kejuaraan Dunia 2017 di London dan kesalahan start di Daegu, Korea Selatan pada 2011 yang membuatnya secara otomatis didiskualifikasi.

Sejak 2008, Bolt hanya sekali kalah di nomor 200 meter, oleh atlet senegaranya, Blake, di ajang Kejuaraan Nasional Jamaika pada 2012.

Blake juga menang di nomor 100 meter di ajang ini, satu dari lima kegagalan Bolt di turnamen besar di sepanjang kariernya.

Selain Blake, atlet lain yang pernah mengalahkan Bolt di nomor 100 meter adalah Gatlin, Christian Coleman, Powell dan Gay.

Rekor Bolt

Bagaimana Bolt melakukannya?

Tidak ada jawaban pasti atas prestasi Bolt yang sangat fenomenal.

Namun penelitian yang dilakukan Mackala Krzysztof dan Antti Mero, yang diterbitkan di Journal of Human Kinetics, menemukan postur tubuhnya, dengan tinggi badan 195 cm, membuatnya lebih unggul dibandingkan lawan-lawannya.

Punya postur jangkung sering dianggap sebagai faktor yang merugikan bagi atlet karena bisa membatasi daya dorong.

Namun para peneliti menemukan, postur Bolt yang jangkung 'membuatnya bisa mengambil langkah yang lebih panjang, yang membuatnya mampu mempertahankan kecepatan tinggi dalam waktu yang lebih lama'.

Rekor Bolt

Rata-rata panjang langkah Bolt adalah 2,47meter.

Itu berarti 20 cm lebih panjang dari hampir semua pesaingnya.

Dengan kelebihan ini, semua lawannya tak berdaya menghadapi Bolt.

Menurut Krzysztof dan Mero, Bolt menyudahi jarak 100 meter kurang dari 41 langkah, sementara lawan-lawannya rata-rata 45 langkah. Mana mungkin bisa menang?

Bukankah atlet jangkung biasanya melakukan start lebih lambat?

Kasus itu tak berlaku bagi Bolt pada akhirnya.

Benar ia memang lebih lambat di tahap awal dibandingkan rivalnya.

Namun menurut Michael Johnson, ketika ia dalam posisi puncak, kinerja pada awal lomba sama dengan lawan-lawannya, yang punya postur lebih pendek.

Dan setelah 20 meter, Bolt meninggalkan para kompetitor dan posisi ini bertahan hingga lomba selesai.

Karismanya bukan hanya karena lari.

Ia memang mempesona. Mulai dari pose ala Bolt, melakukan hal-hal kocak di arena lomba hingga klaim bahwa prestasinya yang mengagumkan ini gara-gara ayam goreng.

Kepribadinnya yang menyenangkan membuatnya menjadi bintang.

Tak mengherankan ia adalah salah satu orang paling terkenal di muka Bumi. Lihat saja jumlah pengikutnya di media sosial.

Di Twitter ia punya 4,75 juta pengikut, di Facebook 19 juta dan di Instagram 7,1 juta.

Dan dari prestasi tingkat dunia dan popularitas ini ada kontrak-kontrak yang menggiurkan.

Nilai kontrak yang diteken Bolt dengan Puma, Mumm champagne, Advil, dan merek-merek lain mendongkrak pendapatan tahunannya menjadi US$34,2 juta.

Majalah Forbes menempatkannya di urutan 88 dari 100 selebritas papan atas dunia untuk tahun 2016-2017.

Bolt juga dikenal sebagai orang yang dermawan dan menyalurkan bantuan selama bertahun-tahun untuk sekolah menengahnya di Trelawny Parish, Jamaika.

Rekor Bolt

Ditulis oleh Christine Jeavans. Desain oleh Gerry Fletcher. Statistis oleh Mark Butler. Dialihbahasakan oleh Mohamad Susilo. (Sripoku.com/Candra)

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved