Mantan Juara Dunia Angkat Besi Berjuang demi Kesembuhan Sang Buah Hati
Kisah pilu dialami juara dunia angkat besi 1997 dan peraih medali perunggu Olimpiade Sydney 2000, Winarni (42 tahun).
"Ketika itu, perawat tidak ada yang mau mengambil risiko karena kalau memompanya terlalu kencang bisa mengakibatkan jantungnya pecah. Kalau terlalu lambat, paru-paru pecah,” ujar karyawati PT Pos Indonesia itu.
Biaya pengobatan Fariz mencapai ratusan juta rupiah. Namun, dana yang dibutuhkan belum cukup.
Operasi besar selanjutnya perlu dilakukan untuk menyambung usus besar ke tenggorokan sebagai jalannya makanan. Operasi tersebut bisa mencapai Rp 500 juta tanpa BPJS.
Mantan atlet angkat besi, Winarni, tengah membutuhkan dana untuk penyembuhan putranya. (Kitabisa.com)
Donasi via Kitabisa.com
Winarni juga masih membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anaknya, seperti membeli susu, selang, dan perban, yang nilainya mencapai jutaan rupiah per minggu.
Winarni pernah datang ke Kemenpora untuk meminta bantuan pemerintah.
”Saat itu, saya berharap Kemenpora membantu menanggung biaya operasi anak saya. Namun, Kemenpora hanya memberi santunan sebagai atlet legenda sebesar Rp 40 juta," kata Winarni.
"Masalah anak saya tidak sederhana, dia masih membutuhkan dana untuk operasi dan pengobatan harian,” tuturnya melanjutkan.
Sebagai karyawati PT Pos Indonesia, Winarni memiliki penghasilan Rp 3 juta per bulan. Untuk biaya pengobatan anaknya, mantan lifter juara dunia itu juga membuka warung makan.
Setiap hari, ia membagi tugas antara berbelanja sayur, memasak, bekerja di kantor, dan merawat anaknya. Semua upayanya itu belum mencukupi kebutuhan untuk membeli selang dan susu anaknya, hingga tak jarang ia terpaksa berutang.
Meski menghadapi masalah berat, Winarni berusaha tabah. Ketabahan itu ditunjukkan dengan kembali aktif pada kegiatan angkat besi yang telah membesarkan namanya.
Winarni terlibat menjadi juri saat seleksi nasional tim angkat besi pada Juni lalu. Dia juga hadir di pelatnas untuk memberikan semangat kepada lifter yang akan berlomba di Asian Games.
”Impian saya, Fariz sembuh dan bisa bermain, beraktivitas seperti anak-anak lainnya,” ujarnya.
Setelah diberitakan, kisah Winarni berjuang demi sang buah hati ini ramai dibicarakan di media sosial. Kisah tersebut lalu mendorong Maman Suherman menginisiasi gerakan donasi lewat situs kitabisa.com.
Setelah kisah Winarni viral, Kementerian Pemuda dan Olahraga lantas melakukan sejumlah langkah. Saat dihubungi Kompas.com, Sekretaris Menpora, Gatot S Dewabroto, belum merespons untuk mendapatkan keterangan lebih jauh tentang langkah yang sudah dilakukan kementerian.