Berita Palembang

Petani Karet Jangan Terlena dengan Kenaikan Harga Karet, Begini Saran Gapkindo Sumsel

Meningkatnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Rupiah tak serta merta menjadikan harga jual karet di tingkat petani naik.

Petani Karet Jangan Terlena dengan Kenaikan Harga Karet, Begini Saran Gapkindo Sumsel
SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K Eddy sedang Cek Kesehatan Gratis. Cek kesehatan khusus bagi warga lingkungan operasional PT Hevea MK I Palembang, Rabu (25/07/2018). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Meningkatnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Rupiah tak serta merta menjadikan harga jual karet di tingkat petani akan naik untuk jangka panjang.
  
"Saat ini memang menguntungkan bagi petani namun untuk prediksi jangka panjang harga tidak akan naik secara signifikan," kata Ketua Gapkindo Sumsel Alex K Eddy kepada Sripo usai kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di PT Hevea MK I, Rabu (25/07/2018).

Ia mengatakan untuk saat ini harga karet dunia per kilogramnya berada di kisaran 1,3  dolar AS. Harga ini menurutnya kurang ideal jika dihadapkan pada perhitungan pendapatan petani karet.

"Jika harganya di kisaran 2 atau 2,5 dolar AS setidaknya bisa menjadikan petani karet lebih sejahtera dan buyer alias produsen ban tidak akan rugi karena karet alam hanya menyokong 20 persen dari total bahan baku yang digunakan," tambahnya.

Menurutnya pula untuk mencapai harga sebesar 5 dolar AS pada tahun 2011 masih jauh dari harapan sebab saat itu memang sedang terjadi panik pembelian.

Sebagai catatan Indonesia masih tetap menempati urutan kedua eksportir karet setelah Thailand. Karet yang diekspor merata hampir ke semua negara namun memang lebih didominasi ke Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, Amerika Latin, Korea, India dan beberapa negara lainnya.

Sementara itu, pihaknya juga mengimbau kepada petani karet untuk tidak terlena dengan tingginya harga karet yang otomatis juga berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan. 

"Sewaktu-waktu jika rupiah kembali menguat imbasnya juga kepada penururan harga karet. Harganya bisa jatuh lagi," katanya.

Selain itu  pula, petani juga diharapkan pelan-pelan bisa mengubah pola pikir dan kebiasaan karena selama ini mereka menganggap karet berat (berisi kotoran dan air) akan membuat nilainya mahal karena beratnya naik.

Jika karet yang dijual murni 100 persen maka akan diharga Rp 16.500 perkilonya tapi karena kotor umumnya diharga 50 persen maka harganya hanya separuh saja, selain itu panjangnya mata rantai pembelian karet oleh tengkulak juga harus dipotong karena membuat nilai jual petani semakin murah.

"Pemerintah dan para pengusaha karet semestinya duduk bersama dan buyer agar nilai pembelian karet di tingkat internasional juga naik dan ujungnya juga pada kesejahteraan petani karet." tutupnya. (mg3)

Penulis: Jati Purwanti
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved