Kisah Soekarno yang Harus Mandi 6 Menit di Lapas Sukamiskin, Dijenguk 2 Kali Dalam Sebulan
Kisah Soekarno yang Harus Mandi 6 Menit di Lapas Sukamiskin dan Saat KPK Temukan Sel Napi Kosong
Tetapi hati dan badan yang haus tiadalah dapat dipenuhinya; itupun menurut perasaanku pula. Itulah sebabnya, maka saya hanya sekali-kali saja pergi ke sana; biasanya malam hari saya berkurung dalam bilikku saja.
Saya coba-coba mengusahakan supaya waktu dalam bilik kecil ini besar hasilnya. Sampai sekarang percobaan itu tak ada manfaatnya. Karena tadi telah saya katakan: saya tak dapat belajar dengan baik, karena badan sudah payah.
Otak seolah-olah dapat penyakit kekurangan darah (anemia) sehingga tidak banyak yang dapat diterima dan dipikirkannya; otakku merasa lekas benar penuh isinya, lekas payah.
Alangkah baiknya, sekiranya ada surat kabar. Tetapi segala surat kabarku ditahan, begitu juga surat berkala; sedangkan “d’Orient" tak boleh saya terima.
Bibliotik rumah kurungan ini lebih dimaksudkan sebagai pelepas lelah dan untuk mempertebal perasaan agama daripada untuk belajar.
Kitab pengetahuan hanya sedikit; untuk keperluanku, yaitu perkara sosial dan sosiologis tidak ada sama sekali. Memasukkan buku sendiri hanya diizinkan dengan pemeriksaan keras.
Dahulu dalam rumah kurungan di Bandung, dapat juga saya meneruskan pelajaranku perkara pergaulan hidup dan sejarah, walaupun dengan beberapa perjanjian yang berat-berat.
Tetapi sekarang pelajaran ini, yaitu untuk mengetahui pergerakan pergaulan hidup, syarat-syarat pergerakan dan pergaulan orang Timur, semuanya itu terpaksalah saya hentikan, tak dapat diluaskan lagi.
Bagaimana jadinya? Hanyalah ini Sukamiskin ialah tak lebih daripada suatu rumah kurungan dan saya ini tak lebih daripada seorang orang hukuman; seorang manusia yang mesti menyembah larangan dan suruhan, seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya.
Baca: Sebelum Ditangkap KPK, Inneke Koesherawati Sempat Unggah Penggalan Ayat, Soal Kesombongan dan Dusta
Dahulu dalam rumah tahanan hidupku telah dibatasi, sekarang batasnya bertambah sempit lagi. Segalanya di sini dikerjakan dengan suruhan komando: makan, pulang balik ke tempat bekerja, makan, mandi, menghisap udara, keluar masuk bilik kecil, semuanya dikerjakan seperti serdadu berbaris; semuanya seolah-olah disamakan dengan suatu derajat, tempat kemauan merdeka mesti dihilangkan.
Orang hukuman sebenarnya tiada lain daripada seekor binatang ternak ; orang hukuman menurut kata pengarang D’erman 'Nietzsche, ialah seorang manusia yang dijadikan manusia yang tiada mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang ternak.
Sungguh sayang benar hati kita kepada Nietzsche! Kalau dicoba menghidupkan seorang “Uber-Mensch", dalam suatu rumah kurungan, yaitu orang yang lepas dari segala kebaikan dan keburukan, tentulah akan sia-sia belaka.
Alangkah heran hatinya, setelah dibacanya kembali kitabnya, yang bernama “Zarathustra"! Seperti saya ini tinggal dalam bilik kecil pada malam hari dipandangnya sebagai keburukan yang paling kecil; tinggal dalam kandang yang sempit, tempat manusia dapat insyaf akan dirinya, tempat manusia dapat mengemudikan sedikit-sedikit, walaupun dibatasi betul-betul.
Saya tentu akan dibenarkan, kalau saya lebih suka dibuang tiga tahun daripada dihukum 2½ tahun dalam rumah kurungan ……. Tetapi entah dimana ada tertulis kalimat ini: “Walau dimana sekalipun, patutlah kemajuan diusahakan!” Hatiku tinggal tetap: selalu insyaf akan diriku; tak pernah saja melupakan suara hatiku.
Dan selalu saja mengusahakan kemajuan-kemajuan itu, baik dahulu atau sekarang. Barang siapa yang tidak berusaha menuju derajat Uber-Mensch, itulah tandanya ia tak tahu akan suruhan kemajuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/soekarno-menangis_20170920_092011.jpg)