Berita Palembang

Jaga Keharmonisan, Bermaaf-maafan Sebagai Tradisi Umat Islam Seluruh Dunia

Bagi umat Islam di seluruh dunia tradisi Bermaaf-maafan merupakan suatu hal yang wajib dilakukan, apa lagi tradisi

SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL
Gubernur Alex Noerdin saat menggelar halal bihalal di Griya Agung Palembang. 

Laporan Wartawan Sripoku.com Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Bagi umat Islam di seluruh dunia tradisi Bermaaf-maafan merupakan suatu hal yang wajib dilakukan, apa lagi tradisi ini hanya dilakukan paling tidak dua kali dalam momen Idul Fitri maupun Idul Adha.

Hal ini jugalah yang kerap dilakukan masyarakat muslim Indonesia saat lebaran.

Mengunjungi kerabat, teman maupun keluarga menjadi satu keseharusan untuk berbaur saling memaafkan (Halalnihalal), sebagai suatu kebiasaan yang ada di tanah air sebagai, ungkapan untuk saling memaafkan atas kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan.

Baca: Bagikan Ribuan SK Guru Honor, Alex Noerdin Pastikan Gaji 1,5 Juta Per Bulan

Halalbihalal juga dipahami sebagai bentuk aktfitas seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan saudaranya, meluruskan hubungan yang sempat terputus, serta melepaskan ikatan dosa dari saudaranya dengan jalan saling memaafkan.

Hal ini pun diungkapkan Alex Noerdin Gubernur Sumatera Selatan saat melakukan Halalbihalal di rumah dinas Gubernur beberapa waktu lalu.

Baca: Rayakan Ulang Tahun ke 31 di Rusia, Tak Banyak yang Tahu Begini Awal Karir Lionel Messi

Dirinya mengungkapkan bahwa lebaran menjadi momen yang berharga bagi dirinya dan keluarga untuk mempererat tali silaturhami bersama masyarakat.

“Setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa, sampailah kita pada hari kemenangan. Semoga ibadah kita di ridhoi oleh Allah. Dengan saling memaafkan diharapkan kita dapat mendapat berkah tersebut,” bebernya.

Baca: Toni Kroos Cetak Gol Paling Larut, Ini 5 Fakta Menarik Jerman Vs Swedia di Piala Dunia 2018

Halalbihalal pun tidak hanya dilakukan oleh para pejabat. Bagi masyarakat biasa pun tradisi saling memaafkan sudah terjalin sejak lama.

Dudi (32) perantau dari Bangka mengaku, sudah menjadi keseharusan berkumpul bersama keluarga setiap tahunnya.

“Setiap tahun saya selalu mudik ke Palembang untuk melakukan tradisi bermaaf-maafan bersama keluarga besar. Momen yang hanya dilakukan setahun sekali ini juga menjadi kesempatan untuk menengok dan sungkem kepada orang tua,” ungkapnya, Minggu (24/6/2018).

Lanjutnya, dengan bermaaf-maafan bersama membuat suasana kekeluargaan semakin baik lagi.

“Tidak hanya dengan keluarga, mungkin juga sama tetangga, teman. Dengan hidup rukun kita akan menjaga keharmonisan antar sesama,” tutupnya.

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: Reigan Riangga
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved