Mutiara Ramadan 2018
Puasa Ramadhan Rasulullah
WALHAMDULLILAH, hari ini tiba bulan Ramadan yang kita tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. Umat ada yang fokus menyiapkan rohani
KH Dr Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah MUI
WALHAMDULLILAH, hari ini tiba bulan Ramadan yang kita tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. Umat ada yang fokus menyiapkan rohani dan fisik untuk menyambut bulan Ramadan.
Lalu bagaimana Rasulullah SAW menyiapkan dan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan? Sejak usai menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan melanjutkan puasa enam hari di bulan syawal, Rasulullah SAW langsung menyiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan berikutnya.
Rasulullah SAW rutin puasa Senin dan Kamis. Ketika memasuki bulan Rajab, dua bulan menjelang bulan puasa, Rasulullah berdoa, "Allahumma barik lana fi rahaba wa sya'ban wa ballighna Ramadhan (Ya Allah berkahilah di bulan Rajab dan bulan Sya'ban serta sampaikan (umur) kami di bulan Ramadhan)."
Rasulullah memerintahkan umatnya agar memulai puasa di bulan Ramadan karena telah melihat bulan, dan mengakhiri bulan Ramadan untuk berlebaran karena melihat bulan. Jika bulan tak terlihat karena mendung, sempurnakan hitungan hari pada bulan Sya'ban atau bulan Ramadan sampai tiga puluh hari.
Hadits riwayat Abu Daud dan An-Nasa'i ini menggambarkan betapa berhati-hatinya Rasulullah dalam menghitung masuknya bulan Ramadhan dan selesainya kewajiban berpuasa. Sehingga karena tak bisa melihat bulan, hitungan harinya disempurnakan menjadi tiga puluh seperti Ramadan tahun ini. Dalam hitungan kalender hijriyah hanya berkisar antara 29 hari atau 30 hari.
Perbedaan sudut pandangan muncul. Apa yang dimaksud dengan melihat bulan sebagai penentu masuknya bulan Ramadan dan mulainya berlebaran?
Sebagian ulama ada yang menganggap melihat bulan itu harus langsung menggunakan mata telanjang. Biasanya bulan dapat dilihat (imkanurru'yah) manakala ketinggian hilal di atas dua derajat.
Pendapat ini mengertikan cara melihat bulan yang diajarkan oleh Hadits adalah bersifat ta'abbudi (ibadah) sehingga tak dapat diterjemahkan secara rasional menggunakan ilmu astronomi saja. Adapun pendapat lain, melihat bulan itu bisa menggunakan mata telanjang dan dapat juga dilihat menggunakan ilmu astronomi (falak).
Menurut pendapat kedua ini, masuknya bulan Ramadan dan mulai lebaran dapat ditentukan menggunakan ilmu falak, yaitu wujudul hilal (adanya bulan) di ufuk meskipun tak harus dilihat oleh mata karena mendung atau karena di bawah dua derajat.
Bulan kesabaran
Ketika hendak memasuki bulan Ramadan, Rasulullah menyampaikan khotbah pada hari terakhir bulan Sya'ban. "Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa-Nya wajib, dan qiyamul lail-Nya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan ibadah sunnah maka seperti mendekatkan diri dengan ibadah wajib di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan ibadah wajib maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lainnya."
Rasulullah menyebut Ramadan adalah bulan kesabaran, dan balasannya adalah surga. Ramadan adalah bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rezeki orang beriman.
Siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang-orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. Sahabat berkata, Wahai Rasulullah SAW, tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa."
Rasulullah bersabda, "Allah SWT memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadan adalah bulan dimana awalnya rahmah (kasih sayang), tengahnya maghfirah (maghfirah), dan akhirnya pembebasan dari api neraka (HR Ibnu Huzaimah).
Begitu mulia bulan Ramadan dan kesempatan emas bagi umat sehingga Nabi SAW perlu mengingatkan agar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih ampunan, rezeki, dan pembebasan dari api neraka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/mutiara-ramadhan_20180517_134512.jpg)