Kisah Koku, Wanita 128 Tahun yang Merasa Hidupnya Tak Pernah Bahagia, Ingin Meninggal Saat Muda
Awalnya pemerintah Rusia mengklaim jika wanita bernama Koku Istambulova ini adalah orang paling tua di dunia.
Penulis: Ahmad Sadam Husen | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM, RUSIA -- Seorang wanita yang diklaim sebagai manusia paling tua yang masih hidup membuat sebuah pengakuan mengejutkan jika dirinya justru tak pernah merasa bahagia.
Wanita yang disebut-sebut berusia 128 tahun ini bahkan mengaku jika umur panjang yang dimilikinya justru merupakan bentuk siksaan yang harus ia alami.
Dilansir dari Viral 4 Real, awalnya pemerintah Rusia mengklaim jika wanita bernama Koku Istambulova ini adalah orang paling tua di dunia.
Namun, Koka justru blak-blakan mengaku jika umur panjang yang ia miliki merupakan pemberian dari Tuhan dan dirinya sama sekali tidak melakukan apapun sampai akhirnya bisa hidup dengan waktu yang lama.
Disaat sebagian besar orang menjalani pola hidup sehat atau berolahraga agar bisa memiliki umur yang panjang, Koku justru mengatakan jika dirinya tidak tahu bagaimana bisa hidup lama hingga sekarang.
Wanita yang sebentar lagi akan memasuki usia 129 tahun ini mengatakan : "Aku tidak pernah merasa bahagia satu haripun dalam hidupku."

===
Klaim yang menyebut jika Koka adalah orang tertua di dunia sebenarnya dibuat oleh sebuah badan bernama 'Pension Fund of the Russian Federation', dimana klaim tersebut didasari dari paspor milik Koka.
Di dalam paspor tersebut, tercatat jika Koka lahir pada 1 Juni 1889.
Jika tanggal lahir tersebut benar, itu berarti Koku baru berusia 27 tahun saat kaisar terakhir, Nicholas II, dipaksa untuk melepaskan tahtanya pada Maret 1917.
Koku juga baru berusia 55 tahun saat Perang Dunia II berakhir pada 1945.
Usianya pun menginjak angka 102 ketika Uni Soviet runtuh pada 1991 silam.
Saat perang terjadi, Koka mengaku masih ingat betul betapa mengerikannya ketika tank milik nazi melintas melewati rumah keluarganya.
Koka dan keluarganya juga sempat dideportasi oleh Stalin, penguasa Rusia saat itu, bersama dengan seluruh warga Chechen keturunan Kazakhstan dan Siberia, dimana kala itu mereka dituduh bekerjasama dengan Nazi.

===
Ketika ditanya bagaimana dirinya bisa hidup dalam waktu yang lama, Koku yang berasal dari Desa Chechnya menjawab : "Semua itu kuasa Tuhan. Aku tak melakukan apa-apa."
"Aku sering lihat orang-orang berolahraga, makan sesuatu yang spesial, menjaga kesehatan tubuhnya agar bisa hidup lama, tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa hidup lama sampai sekarang."
"Setiap hari, aku tidak pernah merasakan bahagia di dalam hidupku."
"Aku selalu bekerja keras, menggarap sawahku. Aku sudah lelah."
"Bagiku, hidup lama tidak sepenuhnya karunia dari Tuhan, tapi sebuah hukuman."
Beberapa orang kerabat dari Koku mengatakan kalau Koku kehilangan satu-satunya putrinya yang masih hidup sekitar 5 tahun yang lalu.
Kala itu, sang putri yang bernama Tamara meninggal dunia ketika usianya 104 tahun.
Koku sebenarnya masih lancar berbicara, bisa makan sendiri dan masih mampu berjalan, namun sayang penglihatannya sudah sangat memburuk.

===
Koku mengatakan : "Aku berhasil selamat dari Perang Sipil Rusia (Terjadi setelah revolusi Bolshevik), Perang Dunia II, deportasi bangsa kami pada 1944, dan aku juga berhasil selamat dari dua perang yang pernah terjadi di Chechen.
"Kini aku yakin hidupku memang bukanlah hidup yang bahagia. Aku masih ingat betul saat tank milik Jerman melewati rumah kami. Sungguh mengerikan."
"Tapi aku mencoba untuk bersembunyi dalam rumah. Tinggal di Kazakhstan adalah hal yang berat buat kami."
"Saat di pengasingan kami pernah tinggal di Siberia, tapi di Kazakhstan kami merasakan betul bagaimana orang-orangnya begitu membenci kami."
"Setiap hari, aku kadang berharap bisa pulang ke rumah."

===
"Bekerja di kebun sering membantuku mengusir rasa sedih namun jiwaku selalu ingin memiliki sebuah rumah," ujar Koku.
Koku tidak bercerita bagaimana tragedi yang dialami keluarganya, namun wanita ini sudah kehilangan beberapa anaknya, termasuk putranya yang kala itu masih berusia 6 tahun.
Koku juga masih ingat betul dengan peraturan pembatasan pakaian pada mereka yang muslim perlahan menghilang seiring dengan berakhirnya era kekaisaran dibawah peraturan yang diterapkan oleh Uni Soviet.
Koku menambahkan : "Kami diharuskan menaati peraturan yang sangat ketat sampai-sampai pakaian yang kami pakai pun diatur agar sederhana."
"Aku ingat betul saat nenekku menyiksaku dan menegurku karena leherku terlihat."
"Era pemerintahan Soviet pun datang dan seketika banyak wanita mengenakan pakaian yang lebih terbuka."
Disela-sela ceritanya, Koku mengaku sangat senang menghabiskan waktu duduk di luar rumahnya saat musim panas, di atas sebuah tempat tidur tua yang ditutupi bayangan sebuah pohon.
Koku mengatakan : "Jika melihat lagi hidupku yang tidak bahagia dulu, aku malah berharap aku meninggal saat masih muda. Aku bekerja sepanjang hidupku."
"Aku tak punya waktu untuk istirahat apalagi untuk mencari hiburan. Kerja kami cuma menggali tanah, atau menanam semangka."
"Saat bekerja, hari-hari yang kulalui berlalu begitu saja satu demi satu."
"Saat ini aku tidak hidup, aku cuma menyeret-nyeret tubuhku saja."
Sementara itu, pihak berwajib mengatakan kalau segala dokumen penting milik Koku hilang ketika Perang Chechen II terjadi mulai 1999 hingga 2009.
'Pension Fund of the Russian Federation' juga mengklaim ada sekitar 37 orang yang berusia diatas 110 tahun hidup di rusia.
Sayangnya semua klaim ini, termasuk Koku, sangat sulit untuk dipastikan karena kurangnya data mengenai kelahiran atau informasi keluarga lainnya.
Koku dan para orang berusia lebih dari 110 tahun ini merupakan keturunan ras Caucasus yang memang memiliki sejarah rentang umur paling lama.
Sejak meninggalnya Nabi Tajima (117), orang paling tua di Jepang pada April 2018, wanita tertua didunia yang tercatat adalah Chiyo Miyako, lahir pada 2 Mei 1901, yang juga berasal dari Jepang.
Manusia dengan waktu hidup lama yang pernah tercatat adalah Jeanne Calment, asal Perancis, yang hidup selama 11 tahun, 164 hari, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 1997.
Bahkan saat masih kecil, Jeanne diketahui pernah bertemu dengan Vincent can Gogh, salah satu sosok maestro lukis paling berpengaruh di dunia. (Sripoku.com/A.Sadam Husen)

===
Simak artikel lainnya di bawah ini :
Baca: Jadi Tersangka Ujaran Kebencian Bom Surabaya, Ternyata Oknum Guru Ini Tak Dikenali Tetangga!
Baca: 5 Selebriti yang Rayakan Ramadan Tahun ini, Tanpa Didampingi Orangtua! No 2 Personel Duo Bunga
Baca: Dilakukan Sejak Kecil, Ternyata Begini Cara Anton Doktrin Anak-anaknya Jadi Teroris, Astaga!
Baca: Hamas Klaim 50 Korban Tewas dalam Bentrokan di Gaza adalah Anggotanya
Baca: Haru! Wanita Berhijab Ini Datangi Gereja Sambil Bawa Bunga, Doakan Bayu Korban Bom Surabaya
Baca: Tolak Ajakan Lakukan Bom Bunuh Diri, Begini Kondisi 7 Anak Pelaku Teror Bom Surabaya, Tak Disangka!
Baca: 1 Tips Sederhana, Mengkhatamkan Al-Quran Dalam 30 Hari! InsyaAllah Dapatkan Limpahan Pahala Dari-Nya
Baca: Kunjungi Makam Sang Putri Malam Hari, Ungkapan Rindu Aming Ini Bikin Sedih Mewek Bacanya
Baca: Inilah 5 Lagu Cocok Buat Playlist, Religius dan Adem Banget
Baca: Adi Sufiyan Mahasiswa 23 Tahun yang Nekat Tebas Polisi Ternyata Mau Serang Palembang, Ini Faktanya
Baca: Inilah 4 Cara Raih Pahala Puasa Tanpa Berpuasa di Bulan Ramadan, No 2 Mudah Dilakukan!
Baca: Takmir Masjid Kaget Walikota Surabaya Risma Tiba-tiba Bersujud Meminta Maaf, Ini Alasannya
===