ancaman tsunami

Tsunami 57 Meter Menghebohkan Ditanggapi Pakar

Beberapa waktu belakangan, isu gempa bumi dan tsunami yang muncul cukup meresahkan masyarakat terutama yang bermukim di bibir pantai.

Editor: Salman Rasyidin
kompas.com
Potensi daerah landaan dan ketinggian tsunami jika zona megathrust dari Bengkulu, Selat Sunda, dan selatan Jawa Barat mengalami gempa dengan magnitudo di atas M 9 dan panjang runtuhan dasar laut 1.000 kilometer, maka ada satu lokasi di Pandeglang yang tinggi tsunaminya 57 meter. Skenario terburuk ini didapatkan dari hasil pemodelan. 

Tsunami 57 Meter Menghebohkan  Ditanggapi Pakar

SRIPOKU.COM --  Beberapa waktu belakangan, isu gempa bumi dan tsunami  yang muncul  cukup meresahkan masyarakat terutama yang bermukim tidak jauh dari bibir pantai.

Karesahan tersebut beralasan karena  ancaman gempa megathrust bermagnitudo 8 digambarkan  bakal terjadi   di Jakarta beberapa hari terakhir ini.

Sebab masyarakat dikejutkan dengan berita potensi tsunami 57 meter.

Namun, sebetulnya potensi tsunami 57 meter di Pandeglang, Banten, Jawa Barat yang merupakan hasil kajian peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) Widjo Kongko ini bukan hal baru.

Pendapat tersebut disampaikan oleh Abdul Muhari selaku Chairman Sentinel Asia Tsunami Working Group melalui opininya di Harian Kompas, Selasa (10/04/2018).

"Jika dilihat kembali ke belakang tahun 1883, tsunami yang terjadi akibat letusan Gunung Krakatau membangkitkan tsunami dengan ketinggian berkisar 37 – 45 meter di Merak dan 22 meter di Teluk Betong (Bandar Lampung saat ini)," tulisnya.

Ini Artinya "Jejak kedahsyatan tsunami Krakatau sampai saat ini masih terlihat dari batu karang sangat besar (boulder) dengan estimasi berat mencapai 600 ton yang terbawa tsunami sampai ke darat di kawasan pesisir Anyer," imbuhnya.

Kejadian tsunami pada 1883 tersebut sendiri diketahui menelan korban hingga 36,417 jiwa.

Abdul juga mengutip sejumlah data terkait tsunami di Indonesia.

"Seperti yang tertulis pada catatan Symons (1888) dalam Choi dkk (2003) dan Pelinovsky dkk (2005), begitu dahsyatnya tsunami tahun 1883 ini sampai menimbulkan 'osilasi gelombang yang tak wajar' di tempat-tempat yang sangat jauh," tulisnya.

Tempat-tempat yang dimaksud Abdul adalah seperti yang terekam pada alat pencatat pasang surut di Port Elizabeth di Afrika Selatan (1,58 meter), Aden-Yaman (37 sentimeter) dan English Channel (selat yang memisahkan Inggris dan Prancis) setinggi 6 sentimeter.

 "Jadi, kawasan pesisir di daerah Selat Sunda merupakan kawasan yang ‘akrab’ dengan tsunami raksasa di masa lalu," tegas Abdul.

Beralih fokus pada solusi Daripada berfokus pada ancamannya saja, Abdul berkata bahwa hal yang lebih penting untuk diketahui oleh masyarakat adalah solusi dan mitigasinya.

"Diskursus yang hanya fokus pada isu potensi ancaman bahaya ditangkap oleh masyarakat menjadi polemik yang meresahkan karena tidak dibarengi dengan solusi mitigasi yang terukur dan bisa diterapkan (applicable)," tulisnya.

Sumber:
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved