Inilah Mahasiswa Pengungkap Kebocoran Data Pengguna Facebook
Nama Christopher Wylie (28), atau akrab disapa Wylie, mendadak ramai dibicarakan di media massa. Wylie adalah whistleblower alias pembisik,
Aplikasi buatan Global Science Research tempat Kogan bekerja, memang kerap menyuguhkan survei tentang kepribadian yang tersebar di Facebook. Pengguna aplikasi ini secara tidak sadar menyerahkan dengan sukarela data personal mereka, apa yang mereka sukai, di mana mereka tinggal, serta siapa saja teman mereka.
Bahkan, Wylie menuturkan, aplikasi tersebut bisa merangsek ke pesan pribadi di Facebook, meski ia tak tahu apakah Cambridge Analytica juga mengakses pesan pribadi atau tidak.

New York Times Email dari Aleksandr Kogan kepada Wylie tentang sifat-sifat yang dapat diprediksi melalui aplikasi.
"Kami hanya perlu menyentuh ratusan ribu akun orang, lalu menyebarkannya lebih luas ke seluruh wilayah AS", ungkap Wylie.
Memang, aplikasi Kogan hanya diunduh 270.000 pengguna Facebook, namun dampaknya hingga puluhan juta data pengguna. Wylie menambahkan hanya perlu dua hingga tiga bulan untuk memanen 50 hingga 60 juta data pengguna.
Memanfaatkan psikologi untuk mempengaruhi pemilih
Wylie sempat berujar, jika dirinya telah membuat senjata perang psikologi untuk Steve Bannon. Menurutnya, Steve sangat ambisius karena dirinya meyakini bahwa untuk mengubah politik, harus mengubah dulu budayanya, karena politik mengalir dalam budaya. Lantas untuk mengubah budaya, maka ubahlah masyarakatnya.
"Jika Anda ingin mengubah masyarakat, hancurkan dulu. Setelahnya, kumpulkan pecahan tersebut menjadi masyarakat baru sesuai visi Anda", imbuh mahasiswa PhD jurusan fashion trend forecasting ini.
Wylie kemudian merancang Psychological Operation (Psyop), sebuah operasi untuk menyampaikan informasi tertentu, mempengaruhi emosi audiens, memotivasi dan memberikan alasan objektif. Untuk menjajaki pemilih, mereka mengumpulkan data banyak orang untuk membangun profil psikologisnya.
"Kami menargetkan mereka bukan sebagai pemilih, namun sebagai personal politik", jelas Wylie.
Setelahnya, tim kreatif, desainer, videografer, dan fotografer membuat konten yang akan dikirim ke target-dalam hal ini adalah para calon pemilih- yang disebar ke internet.
Menciptakan situs, blog, dan konten apapun, selama target bisa mudah mencarinya, mengkliknya, lalu membiarkan mereka masuk semakin dalam ke konstruksi yang dibangun melalui psikologi.
Wylie pun menjelaskan jika cara ini berbeda dengan cara konservatif dengan narasi di depan umum.
"Anda bisa membisikkan ke setiap telinga target, bahkan membisikkan hal berbeda dari satu target ke target yang lainnya. Kami mengambil risiko untuk mem-framing masyarakat", imbuh Wylie.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/christopher-wylie-pembocor-data-facebook_20180323_111433.jpg)