Kawasan Ekonomi Khusus TAA Dinilai Jadi Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi Sumsel
Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-api (KEK TAA) dinilai menjadi kunci utama percepatan pertumbuhan ekonomi provinsi Sumsel.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-api (KEK TAA) dinilai menjadi kunci utama percepatan pertumbuhan ekonomi provinsi Sumsel.
"Disimpulkan dalam diskusi tadi, pembangunan kawasan ekonomi khusus TAA yang bisa menggerek ekonomi Sumsel lebih cepat lagi kedepannya," ungkap Ketua DPRD Sumsel HM Giri Ramanda N Kiemas SE MM pada dialog terbuka Ikatan Alumni (Iluni) Universitas Indonesia dengan tema pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Aula DPRD Sumsel, Sabtu (20/1/2018).
Menurut Giri, jika KEK TAA terwujud maka akan dapat memicu pertumbuhan ekonomi di Sumsel, karena disitu akan menjadi kawasan industri yang memiliki pelabuhan. Sehingga memudahkan keluar masuk barang dari dalam dan luar Sumsel.
Selain itu, perlunya hilirisasi industri hasil sumber daya alam yang ada di Sumsel. Misalnya sawit, kopi, teh dan barang tambang.
"Kalau ada hilirisasi artinya akan ada nilai tambah dari Sumsel. Nilai ekonomi, ada orang yang bekerja dan memicu pertumbuhan ekonomi serta jaminan harga. Karena sudah pasti ada yang beli, dan jangka panjangnya perlu dilakukan. Salah satu point kuncinya, bagaimana TAA bisa terwujud," kata politisi PDI Perjuangan.
Menurut keponakan Almarhum Taufik Kiemas yang kini sebagai Bacagub Sumsel 2018, pertumbuhan ekonomi Sumsel cukup menggeliat.
Pertumbuhan ekonomi Sumsel mencapai angka 5,3 persen. Angka ini cukup luar biasa diatas rata-rata nasional.
"Tapi juga butuh pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya angka saja, melainkan harus optimal harus bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, disitu terlihat kemiskinan turun tapi belum signifikan, bahkan masih diatas angka rata-rata nasional," urainya.
Namun yang menggembirakan, efisiensi rasio Sumatera Selatan lebih baik dibanding nasional dan kedepan dengan pertumbuhan ekonomi yang terencana dengan baik dan terarah akan dapat mempertahankan daya beli masyarakat.
"Kemudian meningkatkan value dari ekonomi Sumsel, nah inilah yang harus dijaga dalam jangka pendek," ujarnya.
Kepala Bappeda Provinsi Sumsel, DR. Ekowati Retnoningsih SKM MKes mengatakan, ekonomi di Sumsel inklusif tetapi kita sedang menuju ekonomi yang inklusif tersebut yang terpenting apa yang harus kita lakukan untuk inklusif sepenuhnya.
Artinya pertumbuhan ekonomi tinggi tapi bisa menekan kesenjangan, menekan kemiskinan sehingga kue pertumbuhan ekonomi ini bisa dinikmati oleh banyak masyarakat di Sumsel.
“2010 sampai 2017 memang terlihat paling tinggi saat Sea Games 2011 dan dampaknya masih bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi tahun 2012, mudah-mudahan di moment Asian Games 2018 kita dapat mengejar pertumbuhan ekonomi ini yang tinggi namun Sumsel bukan hanya fokus untuk menggaet pertumbuhan ekonomi yang tinggi apalagi giri rasio Sumsel jauh dari giri rasio nasional, kita di 0,38 kalau nasional 0,4, semakin kita tekan angka ini kesenjangan bisa kita tekan, walaupun kita belum sempurna inklusif tapi kita sudah mencapai atau mengarah ke ekonomi inklusif,“ katanya.
"Selain itu inflasi di Sumsel bisa ditekan 2.96 terupdate sebelumnya 2,87. Angka kami masih di 2,87, jauh karena target inflasi biasanya plus min 4, kita jauh inflasinya artinya saat kita bisa menekan inflasi maka beban masyarakat tidak seberat saat inflasi tinggi,” katanya.
Sedangkan General Manager PT. PLN WS2JB, Daryono melihat energi komsumsi pertumbuhan listrik di Sumsel , Jambi dan Bengkulu 2017 4,61persen ini belum relevan dengan pertumbuhan ekonomi yang ada sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dialog-terbuka-iluni-ui_20180121_184904.jpg)