Kerawanan Pangan
Menggali Pengalaman Kerawanan Pangan di Rumah Tangga, Bagaimana Sumsel ya??
Masalah kerawanan pangan masih menjadi isu global dan perhatian utama banyak negara di dunia.
Menggali Pengalaman Kerawanan Pangan di Rumah Tangga
Oleh : Lesi Herleni, SST
Fungsional Statistisi Muda BPS Provinsi Sumatera Selatan
Masalah kerawanan pangan masih menjadi isu global dan perhatian utama banyak negara di dunia.
Sesuai kesepakatan pada World Food Summit di Roma pada tahun 1996 lalu, kemudahan untuk mengakses kecukupan makanan bergizi disepakati sebagai salah satu hak asasi manusia.
Masalah kerawanan pangan ini juga menjadi salah satu tujuan utama dunia yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs).
Dari sebanyak 17 tujuan SDGs, salah satunya bertujuan untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terus mengupayakan pencapaian target utama dari tujuan tersebut yaitu menghilangkan kelaparan dan menjamin akses bagi semua orang untuk mendapatkan makanan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun, khususnya orang miskin dan mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti bayi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengukur, mengawasi, dan mengakhiri kelaparan diseluruh dunia.
Metode pengukuran formal yang terstandar diperlukan dalam rangka menghasilkan data terukur dan terbanding antar negara.
Sejak tahun 2014, pengukuran kerawanan pangan beberapa negara di dunia telah dilakukan dengan menggunakan World Poll Questionare pada Gallup --World Poll (GWP) dengan metode the Food Insecurity Experience Scale (FIES). Ujicoba metode ini telah dilakukan pada tahun 2013 di beberapa negara seperti Angola, Ethiopia, Malawi, dan Niger.
Melalui proyek The Voice of Hungry (VOH) yang diselenggarakan oleh FAO, diharapkan FIES dapat tersosialisasi dan menjadi pengukuran terstandar internasional dalam mengukur kerawanan pangan berdasarkan pengalaman di tingkat rumah tangga.
Metode FIES merupakan matrik pengalaman berdasarkan tingkat kerawanan pangan yang bergantung pada tanggapan langsung masyarakat terhadap serangkaian pertanyaan mengenai akses mereka terhadap makanan yang memadai dengan menggunakan skala.
Dengan menggunakan delapan pertanyaan yang ditanyakan langsung kepada rumah tangga sampel dari populasi dan dapat diintegrasikan pada suatu survei, FIES dinilai lebih efektif dan lebih efisien dalam mengukur kerawanan pangan berdasarkan dimensi akses pada tingkat rumah tangga.
FIES dapat didisagregasi pada level wilayah yang lebih kecil dan pada kelompok populasi yang berbeda, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi siapa yang mengalami kerawanan pangan dan bagaimana distribusinya secara geografis.
Indonesia termasuk salah satu dari sepuluh negara di dunia seperti Kenya, Seychelles, Kepulauan Marsekal, Kiribati, Swaziland, Republik Dominika, St. Lucia, Jordan, dan Sudan Utara yang baru melakukan pengukuran kerawanan pangan dengan metode FIES pada tahun 2017.
Pengukuran kerawanan pangan berdasarkan pengalaman rumah tangga di Indonesia dengan metode FIES diintegrasikan pada modul Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2017.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/lesi_20170612_112414.jpg)