Kandidat Independen di Pusaran Kandidat Partai Politik

Menariknya pasangan independen kali ini lebih menarik dibandingkan pilkada yang lalu dari segi ketokohan dan kualitas kandidat.

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ZAINI
Pasangan Independen Akbar Alfaro didampingi Istri dan pendukungnya diarak dengan alat tradisional terbangan menuju Kantor KPU Kota Kamboja Palembang, Rabu (29/11/2017). 

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Sumatera Selatan bakal semakin menarik dengan hadirnya pasangan Independen di antaranya pasangan Akbar Alfaro - Hernoe Roesprijadji (AKHOR) di Pilkada Palembang, KH Buya Husni Thamrin - Supartijo di Banyuasin, Novirzah Djazuli - Suharindi di Kota Pagaralam dan Shinta Muzakir - Syuryadi di Muaraenim.

Menariknya pasangan independen kali ini lebih menarik dibandingkan pilkada yang lalu dari segi ketokohan dan kualitas kandidat.

Di Kota Palembang, sebagai pendatang baru yang belum memiliki pemilih militan yang kuat pasangan AKHOR harus mampu memanfaatkan peluang yang ada.

Pasangan independen ini tetap terbuka untuk bisa bersaing dikontestasi pilkada Palembang melihat pemilih non militan masih tinggi.

"Hari ini kita akan menerima Bacawako jalur perseorangan Akbar Alfaro B Bus bersama bakal pasangannya Hernoe Roesprijadji SIP," kata Ketua KPU Palembang, Syarifuddin, Rabu (29/11/2017).

Bacawako Palembang jalur independen Akbar Alfaro B.Bus bersama bakal pasangannya Hernoe Roesprijadji SIP.
Bacawako Palembang jalur independen Akbar Alfaro B.Bus bersama bakal pasangannya Hernoe Roesprijadji SIP. (SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ)

Pengamat sosial politik Fatkurrohman SSos MSi mengatakan jika dilihat dari ketokohan dan sosio historis, pasangan AKHOR potensial meraup suara untuk segmen pemilih mellenial terutama pemilih pemula dan pemilih muda.

Potensinya cukup besar pemilih ini bisa mencapai 20 persen.

"Tergambar juga dalam rilis survei LKPI beberapa minggu belakangan ini di berbagai media. Setelah Lury Elza Alex yang mampu menarik pemilih pemula menyatakan tidak maju, pemilih pemula yang sebelumnya kecenderungan memilih lury beralih ke Akbar Alfaro," kata Fatkurrohman.

Sementara, ketokohan Hernoe, pemilih potensi Hernoe lebih kepada segmen pemilih religius muslim dan rasional.

Hal ini terlihat dari Sosio Historis ketokohan Hernoe sebagai wakil ketua NU Sumsel serta gagasan-gagasan yang dimunculkan dalam bentuk jargon-jargon.

Pemilih potensial religius yang jadi magnet Hernoe yakni warga nahdiyin yang angkanya capai 46 persen di Kota Palembang.

Terakhir data Juli 2017 dari Lembaga RCI, warga NU yang tertarik memilih Tokoh NU jika ada yang maju pilkada Palembang mencapai angka 30an persen.

Hanya saja yang jadi masalah saat ini ketokohan Hernoe di mata warga NU belum populer, terlihat dari elektabilitasnya baru 4-5 persen.

"Hal inilah yang menjadi pekerjaan Akbar-Hernoe kedepan jika ingin bersaing di Pilkada Palembang dengan menyasar pemilih potensial tersebut yakni pemilih milenial, pemilih religius dan pemilih rasional," katanya.

Dengan angka pemilih non militan yang masih besar membuat pilkada masih sangat cair, semua kandidat tetap berpeluang meraih suara bahkan bisa berimbang dengan pasangan parpol jika mampu mengkosolidasikan pemilih non militan tersebut yang angkanya ditaksir masih sekitar 51 persen pemilih di Kota Palembang.

Peluang terbuka juga untuk pasangan Independen Kabupaten Banyuasin Buya - Supartijo.

Tokoh NU Banyuasin ini dalam berbagai survei bahkan bertengger di tiga besar dengan tingkat kontestasi yang ketat.

Secara kualitas ketokohan kandidat independen ini tidak kalah dengan calon dari partai politik.

Kuncinya apakah Supartijo sebagai bagian tokoh Pujasuma mampu menarik pemilih identitas jawa atau tidak di Banyuasin terutama perairan yang menjadi mayoritas dan dinilai jadi arena penentu kontestasi Pilkada Banyuasin.

Menarik lainnya yakni kandidat Independen di Kota Pagaralam dan Kabupaten Muaraenim bagian dari petahana.

Novirzah Wakil Walikota Pagaralam dan Shinta Muzakir istri Bupati Muaraenim.

Dari segi ketokohan dan kekuatan politik tentu tidak bisa diragukan.

Tinggal bagaimana kedua tokoh tersebut memainkan jaringan relawan akar rumput.

Semakin kuat maka bisa mengancam pasangan dari parpol.

"Kita semua tahu dalam kontestasi Pilkada seringkali parpol kurang berperan dalam pemenangan.

Ketokohan, kepiwaian memainkan isu politik serta program dan bagaimana memadukan kekuatan relawan akar rumput akan jadi penentu kemengan kandidat," kata Fatkurrohman.

Cerita Kemenangan Independen berdasarkan data 101 daerah yang mengikuti Pilkada serentak tahun 2017 lalu tercatat hanya satu daerah yang dimenangkan oleh pasangan calon dari jalur independen, yakni Kabupaten Pidie di Provinsi Aceh.

Pasangan calon dari jalur independen tersebut adalah Roni Ahmad (Abusyik) dan Fadhullah TM Daud.

Hebatnya, yang dikalahkan oleh pasangan Roni Ahmad dan Fadhullah adalah petahana yang pada Pilkada 2017 memborong dukungan seluruh Parpol yang ada di Kabupaten Pidie.

Pasangan ini berhasil memperoleh 96.184 suara atau 48,19 persen. Mereka unggul 2,34 persen dari pasangan petahana Sarjani Abdullah dan M Iriawan yang mengantongi 91.511 suara atau 45,85 persen.

Satu pasangan calon lainnya, Tarmiyus-Khalidin Daud yang juga menggunakan jalur independen, hanya meraih 11.885 suara atau 5,96 persen.

Apa yang membuat pasangan Roni Ahmad-Fadhullah bisa memenangkan Pilkada Pidie 2017, padahal petahana yang menjadi lawan kuatnya sudah memborong dukungan semua parpol?

Fadhullah mengungkapkan, kemenangannya pada Pilkada Pidie tidak terlepas dari sikap mayoritas masyarakat Pidie yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Bupati saat itu.

Masyarakat Pidie mungkin sudah kesal dengan Bupati yang janji-janjinya banyak tidak terealisasi.

Antara lain janji memberi subsidi kepada setiap KK (kepala keluarga) sebesar satu juta rupiah tiap bulan.

Mengacu kepada kekecewaan masyarakat Pidie terhadap petahana, pasangan Roni Ahmad-Fadhullah pada kampanye lalu mengangkat slogan dengan menggunakan bahasa lokal “Darah nyang Beutoi Haram Meu Sulet“.

Dalam bahasa Indonesia arti slogan itu kira-kira adalah haram hukumnya untuk membohongi rakyat.

Masyarakat Pidie menaruh kepercayaan besar kepada Roni Ahmad, mantan panglima GAM wilayah Pidie yang kini berprofesi sebagai petani, hidup sederhana, dan di masyarakat akrab dipanggil dengan sebutan Abusyik atau Kakek.

Biaya kampanye sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat Pidie. Kami sendiri gak punya uang.

Menurut Fadhullah, ia bersama Abusyik juga berjanji akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat Pidie, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun pertanian yang merupakan potensi terbesar perekonomian Kabupaten Pidie.

Dari cerita tersebut dapat gambaran, bagaimanan ketokohan kandidat, kepiawaian memainkan isu kekecewaan masyarakat dan menyolidkan kekuatan relawan, pasangan independen mampu mengalahkan petahana yang mendapatkan dukungan seluruh parpol.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved