10 Tahun Jadi Pembantu, Wanita Bisu Ini Ungkap Siapa Dia Sebenarnya, Anak Majikan Pun Bersujud
Tetapi ternyata tidak semua pembantu itu hanya membutuhkan uang untuk keperluan hidupnya saja, ada tujuan tertentu mengapa ia mau jadi pembantu
Penulis: ewis herwis | Editor: ewis herwis
Tampaknya ia mulai tampak sehat setelah makan, terus mengucapkan terima kasih dengan bahasa isyarat.
Ketika ibu bilang kalau sudah enakkan boleh meninggalkan rumah, tiba-tiba ia berlutut, memohon agar menerimanya tinggal di rumah.
Bibi Liu menulis di atas kertas menerangkan bahwa ia tidak punya anak dan keluarga, ingin bekerja sebagai pembantu di rumah, mencuci atau memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Dan juga bilang tidak perlu terlalu banyak upah, yang penting ada tempat tinggal dan makan, itu juga sudah cukup.

Ibuku orangnya lembut dan baik, karena kasihan ibu akhirnya menyetujuinya.
Bibi Liu, meski tidak bisa bicara, tapi ia rajin, setiap hari mengepel hingga bersih, bahkan bisa membuat aneka masakan yang enak.
Saat ayah-ibu sedang sibuk, bibi Liu yang bertanggung jawab menjaga dan merawatku, bibi Liu sepertinya sangat perhatian padaku, dia selalu mengupas buah-buahan untukku saat sedang mengerjakan PR, atau mengantar dan menjemputku pulang maupun berangkat sekolah.

Suatu ketika ayah dan ibu pergi ke luar kota, saat tengah malam aku demam tinggi, bibi Liu tampak sangat cemas, lalu memapahku naik taksi ke dokter, dia tidak bisa berbicara, tapi karena cemas dan panik, sampai-sampai berkeringat meski di malam hari pada musim dingin.
Setiba di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa terlambat sedikit saja, gejala sakit saya bisa berkembang menjadi pneumonia yakni infeksi atau peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru.
Sudah sepuluh tahun bibi Liu bekerja di rumah, dan tak pernah mau bersantai sejenak pun, tidak membolehkan ibu saya kerja apa pun.

Upah yang diberikan untuknya juga tak pernah dipakainya, sehari-hari hanya memakai beberapa potong pakaian yang itu-itu juga, tapi sangat bersih dan rapi.
Tak disangka setelah bibi Liu menginjak usia 45 tahun, ia menderita penyakit serius, yaitu kanker hati stadium akhir.
Kami bermaksud membiayai pengobatannya, tapi bibi Liu menolaknya, dia bilang tidak perlu membuang-buang uang, dan tak disangka bibi Liu mulai berbicara sambil menangis terisak, dan tentu saja hal itu sangat mengejutkan kami.
“Nak, aku merasa lega dan tenang sekarang setelah melihat hidupmu bahagia, aku hanya berharap sebelum pergi, kamu bisa memanggilku ibu.” Kata bibi Liu.
Setelah bibi Liu bercerita panjang lebar, aku baru tahu ternyata orangtuaku yang sekarang adalah orangtua angkat, dan bibi Liu adalah ibu kandungku.
