Selasa Sejarah

Berikut Beberapa Fakta Sejarah Berdirinya Jembatan Ampera Sebagai Lambang Kota Palembang

Jembatan Ampera yang memiliki panjang total 1.117 meter dan lebar 22 meter serta 63 meter ini di rancang agar bisa mengangkat bagian tengah jembatan.

Tayang:
Penulis: ewis herwis | Editor: ewis herwis

SRIPOKU.COM-- Provinsi Sumatera Selatan yang berpusat di Kota Palembang merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia.

Sebagai pusat dari Provinsi Sumatera Selatan, Kota Palembang yng terkenal lewat Pempek-nya ini banyak sekali menyimpan sejarah peradapan kerajaan Sriwijaya.

Ist
Ist ()

Jempatan Ampera yang merupakan ikon dari kota yang berada di ujung selatan pulau Sumatera ini.

Jembatan yang menghubungkan dua kawasan yakni seberang ilir dan seberang ulu ini sangat membantu kelancaran transportasi antara kedua kawasan ini.

Jadi wajar jika jembatan ini begitu dibanggakan oleh masyarakat kota Palembang sampai sekarang.

Ist

Ist

Pembangunan jembatan Ampera yang dulunya bernama Jembatan Soekarno

Namun banyak yang belum tahu bagaimana sejarah berdirinya jembatan ampera ini.

Berikut ulasan sejarah berdirinya Jembatan ampera:

1. Pada Tahun 1906 pada masa pemerintahan Belanda, Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, muncullah Ide membuat jembatan untuk menyatukan Kota Palembang antara Seberang ulu dan seberang ilir yang terpisah Oleh Sungai Musi, akhirnya tahun 1924 ide ini di realisasi dan dilakukan banyak usaha untuk mewujudkan ide membangun Jembatan tersebut.

Ist
Ist ()

Namun, sampai masa jabatan Le Cocq de Ville berakhir, bahkan ketika Belanda pergi dari Indonesia, proyek pembangunan jembatan itu tidak pernah terealisasi.

2. Pada Masa Kemerdekaan, masyarakat seberang ulu dan seberang ilir memiliki gagasan untuk membuat jembatan yang dapat memudahkan akses transportasi penyeberangan.

Permintaan Masyarakat Palembang tersebut di bawa oleh DPRD Peralihan Kota Besar Palembang ke sidang pleno tanggal 29 Oktober 1956, Tahun 1957 di bentuk Panitia Pembangunan yang terdiri atas Harun Sohar (Panglima Kodam II/Sriwijaya), H.A. Bastari (Gubernur Sumatera Selatan), M. Ali Amin, dan Indra Caya.

Istimewa
Istimewa ()

Kemudian Panitia Pembangunan ini menyampaikan gagasan Pembangunan jembatan tersebut Kepada Presiden RI Ir. Soekarno.

Gagasan tersebut di setujui oleh Bung Karno, dengan Syarat di buat juga taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. penandatanganan kontrak pembuatan Taman Kota atau boulevard dilakukan pada tanggal 14 Desember 1961 dengan biaya USD 4.500.000 atau sekitar Rp. 900.000.000 pada masa itu dengan kurs Dolar USD 1 = Rp 200.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved