Kilang Tebu Tradisional

Kilang Tebu Tradisional yang Unik dan Langka di Sumatera Barat, Kerbaunya Pakai Kaca Mata

Tanaman tebu menjadi komoditas utama masyarakat Nagari Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sejak zaman penjajahan Belanda.

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Kompas.com
Kilang Tebu Tradisional yang Unik dan Langka di Sumatera Barat, Kerbaunya Pakai Kaca mata Kompas Images - 16/8/2017 

Kilang Tebu Tradisional yang Unik dan Langka di Sumatera Barat, Kerbaunya Pakai Kaca mata

SRIPOKU.COM, LAWANG -- Tanaman tebu menjadi komoditas utama masyarakat Nagari Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sejak zaman penjajahan Belanda.

Dari air tebu dan jerih payah kerbau, dulu masyarakat Lawang menggantungkan hidup keluarga mereka.

Proses penggilingan tebu agar air tebunya keluar, kilangan --terdiri dari dua kayu bulat yang berpurar berlawan awah menggunakan tenaga kerbau yang dihubungkan oleh "Pa-undo --tangan-tangan putaran dua kayu bulan yang disatukan semacam gigi-gigi agar kedua kayu bulan berputar memeras tebu yang mau digiling.

Ujung Paundo diikatkan di leher kerbau dan sehingga kerbau hanya bisa berjalan mengelilingi kilangan dan air tebu pun mengalir.

Kini peluh kerbau berganti menjadi suara bising mesin, tergerus zaman dan tuntutan kecepatan.

"Dari dulu dari zaman nenek moyang kami pakai kilang kayu ini. Tahun 80-an baru ada (mesin) besi. Orang yang bisa membuat kilang kayu ini sekarang hanya aku.

Aku belajar dari mertuaku," kata Datu Penghulu Sati (68) saat KompasTravel mengunjungi kilang tradisional miliknya, Nagari Lawang Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (2/5/2017).

asrul
asrul (ist)

Kilang tebu tradisional seperti milik Datuk, memiliki ciri khas yang unik yakni penggunaan alat penggiling tradisional. Alat tersebut dibuat manual, dari dua batang potongan pohon nangka, yang diukir sehingga membentuk uliran.

Uliran pada batang tersebut berbeda namun harus menyambung, sehingga dapat berputar sempurna ketika saling bersentuhan.

Batang kayu tersebut digerakkan oleh kerbau yang terus berjalan membentuk lingkaran.

Perlahan Datuk mengikat kain putih di mata Nyemos, kerbau miliknya. Kemudian ia memakaikan kacamata yang terbuat dari tempurung kelapa ke mata Nyemos.

Menurut Datuk, jika mata kerbau ditutup maka ia akan terus bergerak. Benar saja usai ditutup matanya, Nyemos langsung berlari membentuk lingkaran.

"Pelan-pelan saja nak, pelan-pelan," kata Datuk sembari mengiring Nyemos.

Gerakan Nyemos menjadi penggerak kayu kilang. Di depan kilang, anak dan istri Datuk memasukkan batang tebu yang dibelah dua. Ketika digencet, air tebu keluar turun ke ember penampungan.

"Pakai kayu memang lebih lama, paling jadi hanya 20 kilogram gula. Kalau pakai mesin bisa hasilkan 100 kilogram per hari, tetapi ini cara untuk melestarikan," kata Datuk.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved