Alex Noerdin: Dalam Waktu Dekat Sumsel Alami Masalah Berat. Masyarakat Harus Tahu

Banyak yang harus kita jaga, bukan hanya karhutlah saja, tetapi juga jangan mengotori sungai, mencegah banjir, dan sebagainya

Editor: Sudarwan
DOK Humas Pemprov Sumsel
Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, memberikan sambutan pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) tingkat Provinsi Sumsel di Halaman Plaza Parkir Depan Stadion Utama Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Rabu (12/07/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, mengungkapkan, dalam waktu dekat ini Sumsel mengalami masalah besar dan berat.

Masalah besar tersebut adalah kurangnya sumber air baku untuk air minum.

Hal ini disebabkan air laut telah masuk ke Sungai Musi bahkan mengalir hingga ke Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.

"Kalau hal ini terus dibiarkan, tidak dapat memperbaiki daerah tangkapan air di ulu," ujar Alex Noerdin ketika menghadiri acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) tingkat Provinsi Sumsel di Halaman Plaza Parkir Depan Stadion Utama Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Rabu (12/07/2017).

Enam tongkang pengangkut tangki semen curah terlepas dari ikatan Tugboat di Sungai Musi,Kamis (24/3/2016). Tongkang ini saat melintas depan kawasan BKB terlepas dari kapal penarik. Derasnya air sungai mengakibatkan tongkong tersebut nabrak tiang Jembatan Ampera.
Sungai Musi. (SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT)

“Alhamdulillah karhutlah itu sudah bisa kita atasi, buktinya 2016 tidak terjadi karhutlah, tetapi harus tetap dijaga terus. Namun bukan saja usaha jangan terbakar lagi tapi bagaimana menjaga keseimbangan antara kita mengambil dengan memberi kepada alam. Isu yang lebih berat lagi adalah kelangkaan air baku. Banyak yang harus kita jaga, bukan hanya karhutlah saja, tetapi juga jangan mengotori sungai, mencegah banjir, dan sebagainya,” tegas Alex mengingatkan hadirin.

Dalam kesempatan itu Alex Noerdin membacakan pidato dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Dr Ir Siti Nurbaya Bakar MSc.

Siti Nurbaya mengungkapkan saat ini Indonesia dihadapkan pada tantangan yang nyata dalam hal perlindungan lingkungan dan alam.

Dimana dalam menata hubungan alam dan manusia bukan hanya sekedar pengelolaan sumberdaya alam untuk tujuan profit manusia, apalagi bila profit itu hanya untuk segelintir manusia saja.

Lingkungan dan alam Indonesia, membutuhkan perlindungan mengingat lingkungan dan alam memiliki arti sangat besar dan bisa dikatakan menentukan hidup manusia, karena fungsi- fungsi alam yang bekerja juga bagi manusia atau sekaligus manusia menjadi bagian dalam landscpae ecology alam tersebut.

Tema “Menyatu dengan Alam” mengingatkan pentingnya akan kewajiban memanfaatkan kekayaan alam karunia Tuhan YME dengan sebaik-baiknya.

Berbagai upaya antara lain menjaga siklus air, mengendalikan pencemaran udara, pemanfaatan panas bumi, serta menikmati keindahan alam untuk obyek wisata.

Semuanya tersedia dalam jumlah melimpah di alam namun dapat habis bahkan hilang jika kondisi alamnya rusak atau terganggu.

Sebagai contoh, air yang dihasilkan dari proses siklus hidrologi di alam sangat tergantung dari keberadaan ekosistem hutan.

Manusia dan alam adalah satu, tidak bisa dipisahkan dari alam.

Oleh karena itu terhadap alam, manusia harus jujur mempersepsikan dan memperlakukannya, juga harus menjaga dari berbagai ancaman, harus mengelola dengan prinsip perlindungan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved