Ahli Bedah Syaraf Ini Berhasil Lakukan Eksperimen. Cangkok Kepala Manusia akan Jadi Kenyataan?

Untuk eksperimennya kali ini, Canavero menggunakan sejenis plastik yang disebut polyethylene glycol (PEG) untuk meyambungkan sumsum tulang belakang

Editor: Sudarwan
Sergio Canavero/CNS Neuroscience & Therapeutics
Canavero menklaim telah memutuskan tali spinal dari beberapa tikus dan menyambungkannya kembali. 

SRIPOKU.COM - Ketika Sergio Canavero, seorang ahli bedah syaraf dari Italia, mengklaim bahwa dia akan bisa melakukan transplantasi kepala manusia pada tahun 2015, tidak sedikit yang meremehkannya dan mengira dia sedang mengada-ada.

Canavero juga tidak dianggap serius ketika dia mengklaim telah memotong dan menyambungkan kembali sumsum tulang belakang seekor anjing, walaupun kurang dari setahun kemudian, dia memublikasikan sebuah makalah yang merinci bagaimana ia membuat sekelompok tikus menjadi berkepala dua.

Kini, Canavero, melalui studi yang dipublikasikannya dalam jurnal CNS Neuroscience and Therapeutics Volume 23 pada 14 Juni 2017, mengumumkan bahwa dia telah berhasil memutuskan sumsum tulang belakang dari beberapa tikus dan menyambungkannya kembali menggunakan campuran spesial yang disebutnya sebagai “lem”.

Kepada Newsweek, Canavero berkata bahwa eksperiman terbarunya merupakan lompatan ke depan menuju transplantasi kepala manusia pertama di dunia.

“Para kritikus berkata bahwa sumsum tulang belakang tidak bisa dipulihkan sehingga transplantasi kepala manusia tidaklah mungkin, tetapi pemindaian menunjukkan bahwa sumsum tulang belakang ternyata dapat dipulihkan,” ucapnya.

Untuk eksperimennya kali ini, Canavero menggunakan sejenis plastik yang disebut polyethylene glycol (PEG) untuk meyambungkan sumsum tulang belakang tikus.

Plastik tersebut sebenarnya pernah digunakan oleh para ahli bedah dalam serangkaian percobaan yang dilakukan pada tahun 1930-an dan 1940-an untuk menyambungkan sumsum tulang belakang anjing dan membuatnya berkepala dua.

Sergio Canavero
Sergio Canavero (YOUTUBE)

Hal itu merupakan apa yang Canavero klaim telah dilakukannya pada April ini ketika dia menggambarkan proses pemasangan kepala tikus rumah ke tubuh tikus got.

Ia mengulangi prosedur tersebut kepada beberapa hewan lain dan membuat serangkaian tikus berkepala dua yang hidup rata-rata selama 36 jam.

Dalam persiapannya untuk eksperimen tikus terakhirnya, Canavero juga melakukan apa yang dia sebut sebuah prosedur “pembuktian konsep” pada seekor anjing.

Dia memutuskan sumsum tulang belakang anjing kemudian menyambungkannya kembali – salah satu hambatan utama untuk menyelesaikan prosedur transplantasi kepala pada manusia.

Namun, ia tidak mempublikasikan secara detail berapa lama anjing itu dapat bertahan hidup.

Kini, dalam publikasi terbarunya, Canavero menjelaskan bahwa dia memotong sumsum tulang belakang tikus dan mengoleskan larutan garam pada permukaan luka untuk menghentikan pendarahan.

Sembilan tikus di antaranya kemudian diobati dengan PEG dan lukanya ditutup, sementara enam tikus sisanya hanya diobati dengan larutan garam.

Kedua grup tikus juga diberikan antibiotik setelah prosedur pembedahan selama 72 jam.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved