Tetanggaku, Tetanggamu

TETANGGA itu adalah sebuah kata yang penuh arti. Dalam sebuah lingkungan kota, dia berstatus tetangga saya. Predikat saya pun sama, tetangga dia.

Editor: Bedjo
Rumah
Ilustrasi. 

Mungkin karena kita suudzon atau berburuk sangka, dan selalu melihat rumput tetangga terlalu hijau bagi standar kita. Atau ketidakrelaan melihat kemajuan sepihak di sebelah.

Atau, mungkin juga semata-mata hanya ketidaktahuan akan apa nawaitu atau niat tetangga sebelah dalam berbuat.

Kenapa? Karena tidak kenal. Atau tidak mau kenal?

Maka, sebenarnya fenomena baper di ruang-ruang politik yang sedang kita alami saat ini, seharusnya nya tidak perlu ada. Hanya kekhilafan, karena kurang mau mengenal tetangganya.

Permasalahan terbesar bangsa kita ini adalah karena kita dibesarkan dalam nilai-nilai di mana berlaku sopan lebih penting daripada berbuat benar.

Mempertahankan tentang sesuatu hal baik, dianggap kasar. Dan kita bersembunyi di balik keagamaan untuk membangun identitas diri, daripada mengamalkannya.

Kekhilafan bisa menjadi kedunguan yang merobek-robek esensi bermasyarakat. Seperti tulalit bunyi telepon yang tidak tersambung, "Hello. ... anybody home? Ting tong. Ting tong. .."

Apa kabar tetangga?

Bernardus Djonoputro
Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan
Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah. Saat ini menjabat Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan. Juga sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman. Saat ini menjadi tim ahli APEC Center for Urban Infrastructure Financing bermarkas di Melbourne, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salburg Austria.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved