Tak Perlu di Dataran Tinggi, Tanam Strawberry di Belakang Rumah pun Bisa Berbuah
untuk hobi dengan strowberry sebetulnya sudah lama sebelum kenal hidroponik
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: wartawansripo
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Berawal dari rasa penasarannya untuk membuktikan tanaman strawberry hidroponik bisa tumbuh dan berbuah di iklim Kota Palembang, membuat Edi Rizal mendorong tekun merawat jenis tanaman ini.
"Hobi merawat dan membudidaakan tanaman strawberry ini sudah satu tahun dan ternyata dua bulan kemudian Alhamdulillah berbuah. Melihat buah pertama muncul, tadinya ada rasa tidak pecaya karena bakal berbuah ditanam di Palembang. Jelas saya waktu itu sangat senang sekali," ungkap Edi Rizal.
Menurutnya, untuk hobi dengan strowberry sebetulnya sudah lama sebelum kenal hidroponik. Akan tapi bisa terwujud punya kebun strawberry baru satu tahun terakhir ini.
"Sering ikut pameran pada Ultah Pertamina, ORARI. Strawberry ini sebenarnya ada 44 jenis. Namun saya hanya membudidayakan 4 jenis. California (Amerika), Seol Yang (korea). Mandalawangi dan Alpin (lokal)," jelas Pria kelahiran Ujanmas Muaraenim, 14 Juni 1970.
Alasan kenapa dirinya memilih strawberry, menurutnya karena itu tadi ingin mencoba tantangan baru yang selama ini mitosnya strowberry hanya hidup dan berbuah di dataran tinggi dengan suhu di bawah 20 derajat celcius.
"Ternyata itu hanya mitos. Di samping itu juga kalau untuk tanam sayur rasanya sudah banyak bak jamur di musim hujan," ujarnya.
Lantaran dorongan hobi, dengan bermodalkan sekitar Rp 500 ribu, Edi sudah bisa memiliki bibit.
"Enaknya modal awal saja. Karena selanjutnya akan tumbuh anak. Modal Rp 500 ribu dapat 40 bibit. Sekarang sudah berkembang 250-an batang," katanya.
Meski awalnya karena baru mencoba, Edi merasakan kesulitan menghadapi hama, media tanam yang cocok untuk daerah panas, dan bibit unggul.
"Banyak yang mati karena belum cocok dengan media. Ternyata yang cocok media tanamnya arang sekam dan cocopiat (sabut kelapa)," jelasnya.
Dijelaskannya keunggulan strawberry import, buahnya lebih besar mencapai 20 mg, dan buahnya lebih manis, serta warna lebih cerah dan menarik sehingga minat orang lebih tertarik.
Sementara untuk prospeknya karena di Palembang masih tergolong baru, Edi berkeyakinan strawberry hidroponik ini lebih bisa diandalkan.
"Ini juga memberikan motivasi kreatif anak-anak supaya ada aktivitas bermanfaat dan menjadikan lapangan pekerjaan," jelas Edi.
Saat ini Edi menjual bibit. Kisaran Rp 25 ribu per bibit baik lokal maupun import. Untuk perawatan sendiri sebenarnya simpel. Yang membuat ragu masalah perawatan takut tidak berbuah dengan iklim di Kota Palembang. Tapi dengan sistem hidroponik bisa menjawab keraguan masyarakat.
"Hidroponik ini artinya tanaman yang tumbuh dengan media air tanpa menggunakan tanah. Habitat aslinya memang strawberry ini di daerah dingin. Namun dengan inovasi hidroponik strawberry bisa berbuah di cuaca panas. Kita juga sharing dengan para komunitas pehobi tanaman strowberry hidroponik mengenai cara budidaya, cara perawatan, dan pemasaran," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/tanaman-strawberry_20170506_191112.jpg)