Sebelum Dibantai Jefri Sempat Minum Tuak Bersama Rombongan Pelaku

Kami itu sudah saling tahu dan kenal. Saat itu dia (Korban-red) ikut minum bersama kami dengan menjanjikan akan memberikan uang patungan juga.

Penulis: Sugih Mulyono | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/SUGIH MULYONO
Beberapa adegan rekonstruksi kasus pengeroyokan hingga menyebabkan korbannya meninggal dunia atas nama Jefri (35), Selasa (11/4/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Polsekta Ilir Barat (IB) I Palembang, Selasa (11/4/2017) sekitar pukul 10.00, menggelar rekonstruksi kasus pengeroyokan hingga menyebabkan korbannya meninggal dunia atas nama Jefri (35) yang mayatnya ditemukan tergeletak bersimbah darah di simpang 4 lampu merah Jalan Letkol Iskandar Kelurahan 24 Ilir Kecamatan Bukit Kecil Palembang, Sabtu (18/3/2017) sekitar pukul 19.30 lalu.

Dari hasil rekonstruksi yang digelar di tiga lokasi berbeda dengan diperankan langsung oleh tersangka Andre Muhammad Islam (22), Septrian Dwi Putra (24) dan seorang pengganti dari Angga yang masih masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) tersebut, tampak korban Jefri sebelum dibantai sempat terlebih dahulu ikut kumpul dan minum tuak bersama.

Peristiwa berdarah tersebut, terjadi bermula saat korban Jefri warga Rusun Blok 50 lantai 1 No 19 RT 01/1 Kelurahan 24 Ilir Kecamatan Bukit Kecil Palembang itu mendatangi rombongan tersangka Andre Cs yang jumlahnya sekitar enam orang yang saat itu tengah minum-minuman keras jenis tuak di pinggir sungai yang berada tak jauh dari Rusun Blok 17 dan ikut minum bersama-sama.

"Kami itu sudah saling tahu dan kenal. Saat itu dia (Korban-red) ikut minum bersama kami dengan menjanjikan akan memberikan uang patungan juga. Karena itu, kami pun mau dan akhirnya dia kami bolehkah ikut minum-minum bersama kami," jelas tersangka Andre saat ditemui usai menggelar rekonstruksi.

Sebelum acara minum-minuman tersebut selesai, dikatakan tersangka Andre yang sehari-hari berkerja sebagai pengamen di sekitar lokasi tersebut, ia pun pamit sebentar meninggalkan rombongannya tersebut termasuk korban untuk mengambil pisau di Rusun Blok 26 yang memang biasa selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.

"Saya memang biasanya selalu membawa pisau tapi pas minum itu lupa jadi saya tinggalkan rombongan untuk mengambil pisau tersebut. Setelah saya ambil, saya pun datang kembali dan termasuk melanjutkan minum-minuman tersebut hingga habis," terangnya.

Setelah minuman habis, dikatakan tersangka Andre yang juga diketahui sebagai anak punk tersebut, ia pun akhirnya menagih janji uang patungan untuk membeli tuak tersebut kepada korban Jefri.

Namun, lantaran saat itu korban Jefri belum ada uang sehingga korban Jefri pun mengajaknya termasuk dua orang rekannya yang lain yakni Septrian dan Angga untuk mengambil uang jaga di kawasan Ilir Barat Permai.

"Dia itu memang jaga di sana karena itu kami diajak ke sana untuk ambil uang jaga. Tapi saat itu dia tidak dikasih uang jaga dan malah langsung mau lari meninggalkan kami hingga akhirnya terjadi keributan tersebut," ungkapnya.

Setelah sempat terjadi keributan di Ilir Barat Permai dan dipisahkan oleh seorang yang ada di sekitar, dikatakan tersangka Andre yang seluruh tubuh termasuk wajahnya dibalut tato tersebut, mengatakan, korban Jefri pun langsung berusaha lari menyelamatkan diri dengan menuju ke arah simpang 4 lampu merah Jalan Letkol Iskandar.

"Pas dia lari langsung kami kejar lagi hingga sampai ke simpang 4 lampu merah Jalan Letkol Iskandar. Dan di sana itulah terjadi penusukan. Saya tusuk korban dari belakang tiga kali dan depan sekali. Setelah itu saya langsung membuang pisau ke suangai," tuturnya.

Dikatakan tersangka Andre, ia dan rekannya nekat melakukan aksi penganiayaan hingga menyebabkan korban Jefri meninggal dunia tersebut selain dikarenakan faktor kesalahan pahaman juga dikarenakan faktor dendam.

"Dia ini juga resek sering mengganggu kami dan memang banyak yang benci dengan dia," katanya.

Sementara itu, tersangka Septrian, mengatakan, dalam kejadian tersebut ia tidak ikut menusuk melainkan, hanya menganiaya berupa pemukulan dan menendang.

"Dia itu memang resek bahkan juga sering mengganggu istri saya," ungkap warga Pakjo Palembang itu.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved