Suka Bergaul dengan Dukun, Seorang Ayah Taubat Usai Anaknya yang Bisu dan Tuli Perlihatkan Hal Ini

Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah.

Penulis: Darwin Sepriansyah | Editor: Darwin Sepriansyah
sumutpos.co
ilustrasi anak 

SRIPOKU.COM --- Anak adalah amanah (titipan) Allah buat orang tuanya, karena dia merupakan titipan Allah. Sudah sewajarnya bagi orang tua yang dititipi amanah harus menjaga, memelihara dan mengayominya agar mereka tumbuh dan besar sesuai harapan.

Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang akan berhak mendapatkan predikat sebagai orang tua yang baik. Dan akan mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Tuhannya di akhir hayatnya.

Betapa pentingnya memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang dalam kehidupan mereka, agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tahu berbalas budi alias berakhlak mulia kepada orang tuanya atau lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya orang tua yang memperlakukan anak-anak mereka dengan kekerasan atau dengan perilaku yang tidak baik atau kasar, maka anak-anak mereka pun akan tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang memiliki perangai yang tidak baik pula.

Di sini akan berlaku hukum causalitas - hukum sebab akibat. Dengan kata lain, perilaku atau akhlak anak-anak kita sangat bergantung bagaimana bimbingan dan didikan orang tua dan lingkungannya.

Kisah di bawah ini menjadi pelajaran yang baik untuk dapat memperlakukan ataupun mendidik anak dengan baik, terutama dalam hal agamanya. Berikut kisah lengkapnya, seperti dikutip dari situs fariqanuz.com

Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak.

Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukunTanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.

Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: “Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.

Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. 

Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya.

Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”

Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.

Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved