VIDEO EKSKLUSIF SRIPO

Udang Ketak Merambah Pasar Luar Negeri

Selama ini orang lebih akrab dengan udang lobster sebagai jenis hewan air dengan harga selangit, namun kii tak dipungkiri udang ketak, jadi primadona

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, BANYUASIN -- Berjarak puluhan kilometer dari kota Palembang membuat banyak orang tidak begitu mengetahui bahwa daerah perairan Sembilang, Kabupaten Banyuasin, ternyata menyimpan kekayaan alam khususnya dari hasil laut. Jepang, Hongkong hingga Singapura merupakan negara-negara yang ikut menikmati hasil laut dari kawasan ini.

Setidaknya komoditi udang Ketak (mantis shrimp) dan ketam Tapal Kuda (horse shoe) menjadi incaran pelaku bisnis dari negara-negara tadi. Padahal, di pasar lokal, hewan laut ini nyaris tak memiliki harga.

Selama ini orang lebih akrab dengan udang lobster sebagai jenis hewan air dengan harga selangit, namun kini tak dipungkiri udang ketak, meski perlahan mulai menjadi primadona.

Jenis udang ini dijual berbeda dengan hasil laut lainnya. Jika kebanyakan hewan dijual per kilogram, namun khusus udang ketak dibanderol per ekornya. Untuk satu ekor udang masuk dalam kategori kelas A sepanjang 24 centimeter (cm) dihargai Rp 32 ribu, grade B panjang 15 cm seharga Rp 15 ribu dan klasifikasi C dihargai Rp 8.000 dengan panjang 10 cm.

"Sama seperti lobster, udang ini juga jenis udang laut. Selama ini kami kirim ke pengepul di Jakarta, kabarnya mereka lempar lagi ke Hongkong," ujar Senen, seorang nelayan setempat, ketika Sripo berkesempatan berkunjung ke Sembilang pertengahan Januari lalu.

Ia mengungkapkan, yang membuat udang ketak dibanderol per satuan atau tak jauh beda harganya jika dibandingkan lobster, lantaran untuk mendapatkan udang ini bukan perkara mudah. Hewan tersebut bisa dipanen ketika awal tahun saja. Mereka akan banyak berada di dekat hutan mangrove pada saat-saat air laut sedang deras.

"Tergantung airnya, kalau sedang deras bisa dapat 300 ekor per hari. Kalau lagi susah ya paling sekitar 50 ekor. Kita juga cari sampai ke tengah laut. Jualnya juga cukup mahal satu ekor bisa Rp 100 ribu," jelas Senen.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved