Breaking News

10 Kecamatan di OKI Berpotensi Terbakar

Pemkab terus berupaya menanggulangi dengan cara mensosialisasikan ke warga untuk tidak membakar hutan membuka lahan

Penulis: Mat Bodok | Editor: Darwin Sepriansyah

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG --- Sebanyak 10 dari 18 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), berpotensi rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Untuk mengantisipasi kebakaran tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) terus berupaya menanggulangi dengan cara mensosialisasikan ke warga untuk tidak membakar hutan membuka lahan, Minggu (5/2/2017).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI, mewaspadai 10 kecamatan itu rawan terbakar karena sebagian besar areanya tumbuh tanaman gambut. Penetapan 10 kecamatan tadi, juga diperkuat prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala BPBD OKI Azhar SE melalui Umar Hasan selaku Kabid Penanganan Darurat dan Logistik dan Kasi Penanganan Darurat Fahrul Husni kepada wartawan mengatakan, prediksi BMKG ini berlaku mulai awal musim kemarau di tahun ini hingga akhir tahun mendatang.

Disebutkannnya di 10 kecamatan yang rawan terbakar yakni, Kecamatan Tulung Selapan, Pampangan, Pangkalan Lampam, Cengal, Sungai Menang, Pedamaran Timur, sebagian Kecamatan Kayuagung, Tanjung Lubuk, Mesuji dan Air Sugihan.

Masih katanya, bukannya, wilayah Kecamatan Jejawi, SP Padang, Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji Raya, Mesuji Makmur, Tanjung Lubuk, dan Pedamaran tidak berpotensi terbakar. Namun, wilayah lahan gambut hanya ada beberapa desa saja diwilayah tersebut.

“Wilayah ini juga dilakukan pengawasan yang dilibatkan koramil dan kepala desa (Kades)
setempat dan warga lainnya,” ujar Umar.

“Untuk mengatasi terjadinya Karhutla tersebut, BPBD OKI bersama instansi terkait sudah melakukan persiapan dan siaga. Tim pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sudah dibentuk sejak tahun 2016 yang lalu baik masyarakat peduli api (MPA), masyarakat makmur peduli api, tim pemadam kebakaran yang dibentuk masing-masing
perusahaan perkebunan maupun HTI, juga personil TNI,” kata Umar.

Ketika akan memasuki musim kemarau, posko-posko langsung didirikan di lokasi rawan. Menurutnya, kemarau di tahun 2017 ini diprediksi mulai terjadi pada bulan April atau Mei mendatang. Untuk saat ini dimulai dengan mengecek kesiapan peralatan dan kesiapan seluruh perusahaan, sweeping setiap kecamatan dan unsur Tripika, mengecek kesiapan perusahaan dan peralatan pemadam yang dimilikinya.

“Pemerintah mengharapkan, juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan,” harapnya.

Sementara itu, petani Herman Sawiran meminta kepada pemerintah agar memperhatikan petani yang kurang mampu untuk membuka lahan dengan cara membakar.

“Kalau bisa pemerintah itu jangan hanya bisa melarang dan memberikan hukuman bagi yang membuka lahan dengan cara membakar. Berikan juga solusi dan bantuan kepada petani jangan hanya memberikan sosialisasi tetapi hanya sekedar bicara dan tidak ada buktinya,” ujar Herman seraya berucap petani cetak sawah juga tidak merata di dapat
dari petani. Orang-orang yang mampu dan dekat sama pejabat dapat cetak
sawah. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved