Jamban Program Koramil dan Pemerintah Desa Tanjung Aur Terbengkalai

Zaini yang juga tokoh agama di Tanjung Aur, mengaku kecewa dengan belum diselesaikannya jamban tersebut.

Penulis: Mat Bodok | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Salah seorang warga Desa Tanjung Aur Jejawi menunjukan pembangunan jamban di Desa Tanjung Aur Kecamatan Jejawi OKI, tidak selesai dikerjakan oleh Koramil dan pemerintah desa. 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Pembangunan jamban di Desa Tanjung Aur Kecamatan Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), program Kodim 0402/OKI bekerjasama desa,  belum diselesaikan.

Pengamatan Sripo, Jumat (3/2/2017) bangunan berbentuk kotak segi empat yang akan dijadikan tempat pembuangan BAB tersebut, diatas tanah dengan susunan batu bata tanpa balok besi dan, plesteran.

Zaini yang juga tokoh agama di Tanjung Aur, mengaku kecewa dengan belum diselesaikannya jamban tersebut. 

Menurutnya, jika memang tidak ada dana, seharusnya Koramil di Jejawi bisa menjelaskan kepadanya.

Disebutkan Zaini, awalnya melihat penjelasan koramil cukup semangat dan partisipasi dan kerjasama desa menjanjikan. Tetapi kenyataannya, semua itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Sebelum ditentukan pembuatan jamban di lokasi rumah saya, pak koramil dan kepala desa sudah saya tegur, jangan bikin malu saya ya, kalau sampai tidak selesai. Lebih baik jangan dibangunkan disini,” ujar Zaini seraya menirukan perkataan Koramil Jejawi.

Sekcam Kecamatan Jejawi, Jakpar SSos kaget ketika melihat pembuatan jamban yang sama sekali tidak selesai.

“Itu apa, kolam ikan atau apa?,” tanya Jakpar yang juga menjabat sebagai Pelaksana Jabatan (Pjs) Desa Tanjung Aur Jejawi.

Kalau bentuknya seperti itu, berarti jamban tidak selesai. “Maaf saya baru menjabat Pjs Desa Tanjung Aur, hal ini akan saya koordinasikan dengan Camat Jejawi,” ujar Jakpar saat meninjau jamban.

Dandim 0402/OKI Letkol Kav Dwi Irbaya Sandra SSos ketika dikonfirmasi mengakui, kalau pembuatan rencana jamban itu, untuk merubah hidup sehat.

Pihak Kodim dan Koramil hanya memotori dan mengajak desa dan masyarakat untuk bersama-sama membangun jamban.

Karena, kalau anggaran dari Kodim memang tidak ada. Dana Rp 300 ribu mana cukup untuk membangun jamban.

“Kita hanya mengajak hidup sehat dan secara bersama-sama membangun jamban, dan kodim hanya ada dana Rp 300 ribu itupun sebenarnya hanya untuk makan-makan dan tidak dibelikan bahan,” ujar Letkol Dwi seraya menyebutkan semua itu, tentunya perlu perhatian dan dorongan dari pemerintah desa dan masyarakat.

Masih kata Dandim, kalau masyarakat bisa merasakan manfaat dari jamban, maka kebiasaan yang tidak benar akan segera hilang dan musnah.

“Ini upaya untuk mengajak masyarakat dan desa untuk meningkatkan hidup sehat,” tandasnya. 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved