Sejarah Manis Hendro Kartiko Terulang
Diceritakan Hendro, saat itu Boaz masih berusia 18 tahun. Pemain asal Papua itu ditarik timnas setelah mengisi barisan timnas U-19.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Indonesia akhirnya bisa lolos ke final setelah laga dramatis di Stadion My Dinh Hanoi Vietnam.
Skor 2-2 setelah perpanjangan waktu, memang begitu menguras tenaga dan mencuri perhatian publik tanah air.
Perjuangan keras Boaz Solosa dan kawan-kawan menahan Vietnam akhirnya membuat Garuda melenggang ke final bersama Thailand dengan agregat 4-3.
Namun, ternyata banyak hal menarik dalam laga penuh emosi tersebut.
Bukan hanya aksi komentator yang menyebut serangan 7 hari 7 malam, atau sebutan Kurnia Mega cantik.
Ada satu sejarah manis pernah tercipta di Satdion My Dinh yang terulang.
Persisnya di tahun 2004, ketika itu Indonesia pernah diremehkan publik Vietnam di babak penyisihan Piala AFF.
Sebelum laga dimulai, suporter tuan rumah membentangkan sepanduk yang bertuliskan Vietnam 3-0 Indonesia.
Tapi, hal tersebut justru memicu kemarahan Hendro Kartiko Cs, yang akhirnya membuktikan di lapangan dengan berbalik unggul lewat gol Mauly Lessi, Boaz Solossa serta gol penutup oleh Ilham Jayakusuma.
Dan satu hal menarik lain, ketika itu Vietnam ditukangi Alfred Ridle.
Kini di bawah tangan dingin pelatih asal Austria itu, keadaan seakan terulang, sejarah manis dihadapan ribuan suporter Vietnam.
Indonesia berhasil membuat publik Vietnam pulang dengan kekecewaan.
"Dulu saya jadi penjaga gawang, saat kita pemanasan sudah ada sepanduk itu. Vietnam 3 Indonesia 0. Kemudian saat itu Kapetn Charis Yulianto bilang ke saya. Kita balik, kita balik. Dan alhamdulillah akhirnya bisa kita balik dengan skor 3-0. Kini hal sama terjadi, kita sempat diremehkan. Bahkan kita dikejar dengan mereka kurang satu pemain. Tapi alhamdulillah kita kembali mengalahkan mereka ditempat yang sama," ungkap pelatih kiper Laskar Wong Kito ini mengenang kejadian 12 tahun silam, Kamis (8/12/2016).
Hendro menilai, Boaz dkk memang layak melaju ke final.
Dengan segala hambatan, ia berharap paling tidak dengan naik satu tangga ke final.