Rumah Limas 100 Tiang Warisan Pangean Ini Dibangun Tahun 1811 Masih Kokoh

rumah limas seratus tiang didirikan pada tahun 1811 oleh Pangeran Redjed Wiralaksana yang berasal dari Suku Rambang yang merantau ke daerah Komering.

Penulis: Mat Bodok | Editor: Tarso
Rumah Limas 100 Tiang Warisan Pangean Ini Dibangun Tahun 1811 Masih Kokoh - rumah-100-tiang_20161124_222842.jpg
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Gerbang masuk lokasi rumah limas 100 tiang di Desa Sugih Waras Kecamatan Teluk Gelam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)
Rumah Limas 100 Tiang Warisan Pangean Ini Dibangun Tahun 1811 Masih Kokoh - rumah-100-tiang1_20161124_222930.jpg
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Penjaga rumah limas 100 tiang, Edy Johan hendak turun dari tangga rumah Pangeran Rejed

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG -- Rumah 100 Tiang  merupakan daya tarik wisata sejarah dan budaya unggulan yang ada di Desa Sugih Waras Kecamatan Teluk Gelam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Rumah ini terletak 100 meter dari Jalan Raya Tanjung Lubuk,  lalu masuk ke jalan desa tepi dipinggir Sungai Komering dengan jarak kurang lebih 15 meter.

Rumah limas ini, memiliki daya tarik wisata yang dirancang oleh arsitektur tradisional yang dinilai cukup unik dengan memiliki pondasi dan penyangga sejumlah 100 tiang dan memiliki nilai sejarah.

Interior, ukiran rumah seratus tiang terlihat khas China dan Arab dibangun di Sugih Waras yang ada di area rumah panggung membuat gaya tarik tersendiri berwarna emas, kuning ke kuningan.

Apabila Anda berkunjung ke Bumi Bende Seguguk, Kabupaten OKI, tidak melangkahkan kaki ke Desa Sugih Waras untuk melihat dari dekat rumah seratus tiang itu, akan menyesal.

Untuk jarak tempuh dari Kota Kayuagung, hanya 18 kilometer (km). Dari Kota Palembang, jarak tempuh 84 km Karena, rumah limas seratus tiang didirikan pada tahun 1811 oleh Pangeran Redjed Wiralaksana yang berasal dari Suku Rambang yang merantau ke daerah Komering untuk meminangkan puteranya kepada seorang puteri dari Suku Kayuagung.

Menurut cerita Kadis Pariwisata H Amirudin Msi melalui Kabid Kebudayaan Nila Maryati, Pangeran Ismail selaku orang tua dari puteri yang dipinang meminta agar anaknya dibangunkan sebuah rumah besar bertiang seratus yang terbuat dari kayu unglen dan kayu serumpun yang diukir dalam bentuk ukiran 3 dimensi dan lukisan.

Oleh Pangeran Rejed dibuatlah rumah tersebut dengan menggunakan jasa arsitek yang berasal dari Cina dan Arab sehingga rumah tersebut kaya akan hiasan yang bermotif Arab, Timur Tengah, dan juga Melayu.

Rumah tersebut kini dihuni oleh generasi ke-4 dari pemiliknya yakni, Sabariah (45) sebelumnya dihuni oleh Almarhum Pangeran Rejed Wiralaksana, Almarhum Depati Malian, Almarhum Depati M Ali Besar, dan Nyonya Sabariah bersama suaminya Edy Johan sekarang ini.

Penghuni rumah tersebut merupakan turunan ke-empat dari Pangeran Rejed. Konon ornamen rumah menurut pengakuan Edi Johan penghuni rumah, belum ada yang berubah kecuali genteng bagian atas yang diganti karena bocor maupun patah.

Renovasi dilakukan diupayakan tidak mengubah keaslian bentuk semula rumah seratus tiang ini.

“Rumah ini dibangun Tahun 1811 yang lalu, dan wajar kalau sekarang kondisinya kurang baik, karena atap rumah sudah ada yang bocor,” cerita Nila ketika ditemui di ruang kerja.

Terpisah, diceritakan Edi Johan, Kamis (24/11/2016) rumah limas seratus tiang merupakan rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang kayu berkelas berbentuk bulat setinggi 2 sampai 4 meter yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 tiang.

Adapun kayu yang digunakan berjenis kayu unglen, kelempate, tembesu dan medang. Rumah ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 16 meter x 36 meter. Tangga masuk ada 2 tempat yang terletak di sebelah kanan dan kiri depan rumah.

Untuk masuk ke rumah sebelumnya jangan lupa melepaskan alas kaki, lalu menuju ruang dalam harus melalui teras dan ruang antara.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved